Monday, November 26, 2018

Kepada Siapa Genta Berdentangan, Ernest Hemingway


Maxwell Evarts Perkins pernah mengatakan dalam buku biografinya bahwa tulisan-tulisan Ernest Hemingway mencakup tema ‘manusia yang berlaku mulia saat berhadapan dengan pilihan sulit’. Hal itu terlihat jelas dalam karya-karyanya seperti The Old Man and The Sea, A Farewell to Arms, serta For Whom The Bell Tolls. Dalam The Old Man and The Sea, Santiago, tokoh utama dalam cerita, meski sudah renta tetap berlayar untuk mencari ikan karena tidak tahan dengan omongan para tetangga yang menganggap bahwa hidupnya dipenuhi kesialan. Ia diambang dua pilihan yang sangat sulit; menetap atau berlayar. Begitu pula dalam novel A Farewell to Arms, Letnan Kolonel Henry dihadapkan pada dua pilihan yang membuatnya dilema; tetap bertempur sebagai seorang prajurit atau kabur bersama wanita yang dicintainya. Gambaran seseorang yang terjebak dalam dua pilihan yang sulit ini juga tampak dalam novel Kepada Siapa Genta Berdentangan.
Novel tersebut merupakan hasil laporan Hemingway atas perang saudara yang terjadi pada musim semi tahun 1937 di Spanyol. Novel yang dipersembahkan untuk Martha Gellhorn, wanita yang dikemudian hari menjadi istri Hemingway, menghadirkan sebuah gambaran apik mengenai Spanyol, kengerian perang, dan kisah cinta yang membara.
Robert Jordan mengemban amanat yang diberikan oleh atasannya, Jenderal Golz, Komandan Divisi 35 Pasukan Merah, untuk menghancurkan sebuah jembatan yang dipakai oleh pasukan fasis untuk menggerakkan bala bantuan ketika sewaktu-waktu mereka diserang musuh. Perintah yang sederhana, namun tidak sesederhana kelihatannya. Ia harus merencanakan secara matang agar misi yang ia emban terlaksana dengan sempurna. Tanpa cacat. Ia menyadari bahwa keberlangsungan hidup atas nama keadilan dan kesetaraan di negeri Matador itu berada di tangannya.
Berbekal dua buah ransel penuh bom dengan dipandu oleh seorang kakek tua bernama Anselmo, ia pun akhirnya berhasil menemukan jembatan yang harus ia remukkan. Melalui kakek tua itu, Robert Jordan bertemu dengan banyak pejuang yang tersingkirkan. Mereka adalah para pejuang republik yang melawan kekejaman kaum fasis. Dari setiap cerita yang digaungkan, betapa mengerikannya potret perang kala itu.
Spanyol menjadi ladang pertempuran antar dua ideologi besar kala itu; komunis dan fasis. Perang tersebut merupakan pemanasan sebelum terjadinya Perang Dunia II. Spanyol menjadi tempat pembunuhan massal oleh dua kubu raksasa itu sehingga menimbulkan trauma yang cukup signifikan di benak korban masing-masing kubu. Begitulah yang dialami setiap tokoh yang ada di dalam buku ini; Pablo, Pilar, Maria, Anselmo, Andres, Primitivo, dan para pejuang republik lainnya. Setiap kali mereka mendengar kata ‘Fasis’ apa yang terbesit dibenak mereka hanyalah luka dan luka.
Mereka yang kini menjadi korban adalah para pelaku kejahatan di masa sebelumnya. Ketika berkuasa, mereka juga melakukan pembantaian terhadap para fasis yang hidup di sekitar mereka. Maka ketika mereka menjadi buronan, mereka dihantui akan dosa yang telah mereka perbuat. Bayangan mengenai pembantaian manusia menggunakan alat-alat pertanian, perabotan rumah, granat, dan senjata apapun yang bisa dipakai untuk membunuh kaum fasis selalu menghantui malam-malam nan sunyi di dalam gua persembunyian mereka.
Hingga di suatu titik, setiap orang merindukan kedamaian dan usainya perang. Mereka merindukan hari-hari di mana mereka bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai tanpa harus dirundung rasa takut. Mereka berjuang, bersekutu, dan melawan kaum yang menindas mereka untuk sebuah masa depan yang penuh dengan kebebasan, martabat, hak-hak manusia yang terpenuhi, dan tanpa ada sedikit pun kelaparan. Rasa cinta itu membulatkan tekad mereka. Meski hanya berbekal senjata dan peralatan seadanya, mereka tetap kukuh untuk memperjuangkan ideologi yang telah mereka anut. Walaupun yang mereka hadapi adalah sekumpulan pasukan tentara dengan senjata-senjata mewah seperti tank dan pesawat terbang, mereka tidak gentar.
Ambisi untuk memenangi perang mengusir setiap ketakutan dan kelelahan yang mendera mereka. Bahkan beberapa gerilyawan rela mati dalam tembakan musuh demi untuk melindungi wilayah yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Darah-darah dan mayat-mayat yang berserakan di pinggiran sungai, di dalam jurang, di tepian bukit-bukit, adalah saksi betapa mengerikannya pertempuran antar dua kubu ideologi raksasa tersebut.
Namun, ada satu hal yang menghalangi misi sang prajurit yaitu cinta. Cinta seringkali datang di tempat dan pada waktu yang tidak tepat. Barangkali itulah frasa yang pas untuk menggambarkan betapa menyedihkannya percintaan seorang Robert Jordan. Manakala ia harus memofuskan diri untuk menuntaskan tugasnya, ia justru bertemu dengan sosok Maria, seorang gadis berambut pirang asli Spanyol yang telah kehilangan segalanya dalam peperangan; keluarga, keperawanan, dan kehormatan.
Perempuan itu menumbuhkan rasa cinta yang begitu besar dalam benak Robert Jordan. Perempuan itu adalah pelucut sejati kelelahannya. Perempuan itu adalah semesta dalam realitas yang baru dijajakinya. Beratnya hari-hari yang harus dilalui membuat prajurit itu selalu membuatnya membicarakan akan hari-hari indah di masa depan setelah peperangan bersama perempuan yang dikasihinya. Cinta yang terlampau dalam itu benar-benar membuatnya bingung apakah harus menyelesaikan misinya atau kabur bersama perempuan yang sangat dicintainya.
Pada dasarnya, kisah-kisah yang ditulis Hemingway merupakan cerminan dari kehidupan pribadinya. Santiago, Letnan Kolonel Henry, maupun Robert Jordan semuanya merujuk pada satu orang yang sama, Ernest Hemingway. Michael Pearson pernah berkata dalam bukunya, Tempat-tempat Imajiner, bahwa sukar untuk membedakan realitas dan fiksi dalam kisah hidup Hemingway. Ia adalah seorang tentara, pelaut, tukang tinju, pemabuk, pemain cinta, dan pemburu yang tak kenal takut, yang kesemuanya ia abadikan dalam karya-karya miliknya. Itulah mengapa setiap karya-karyanya selalu membekas dalam diri pembacanya.

Saturday, June 16, 2018

Ruang Inap No. 6, Anton Chekov


Dalam buku ini Anton Chekov berbicara banyak ikhwal kehidupan Rusia pada abad ke-18. Topik-topik yang dibahasnya berkutat seputar masalah keilmuan, kebiasaan dan adat masyarakat rusia, serta modernitas yang mulai merambah rusia. Buku ini ditulis Chekov pada puncak karir kepenulisannya sehingga buku ini terlihat lebih serius daripada karya-karya Chekov sebelumnya.
Cerita pertama yang juga menjadi judul buku ini, berbicara panjang lebar mengenai masalah keilmuan di Rusia pada abad ke-18. Ia menyuarakan keprihatinannya melalui tokoh utama dalam buku, Dokter Andrei Yefimich Ragin, yang karena kepintarannya dimasukkan ke dalam bangsal rumah sakit jiwa. Yang menarik adalah bahwa semasa ia masih dianggap waras, ia tidak menemukan seorang pun yang mampu untuk diajak bertukar pikiran. Dirinya begitu frustasi ketika orang-orang di sekitarnya lebih memilih untuk mabuk-mabukan atau bermain kartu ketika kumpul bersama ketimbang membicarakan suatu ilmu pengetahuan.
Rasa frustasi itu membuat dirinya mengambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan telah mati. Ia memimpikan sebuah zaman di mana ilmu pengetahuan masih sering diperbincangkan. Namun, rasa frustasi itu mulai tersembuhkan ketika dirinya bertemu dengan Ivan Dmitrich Yang merupakan seorang pasien di ruang inap no. 6. Setelah pertemuan dengannya, hampir setiap hari dokter mengunjungi bangsal tersebut. Alasannya sederhana bahwa Ivan Dmitrichlah satu-satunya orang yang mampu membuat dirinya bertanya-tanya tentang realitas dan bagaimana dunia ini berjalan. Kebiasaannya tersebut akhirnya tercium oleh dokter Khobotov Hingga akhirnya sang dokter muda tersebut mengirim dokter ke bangsal itu karena dianggap bahwa dirinya turut menjadi gila. Kadang, ketika kita tidak ingin mengikuti bagaimana pola kehidupan masyarakat pada umumnya, pada saat itu pula kita dianggap gila meski apa yang kita lakukan adalah hal benar. Kita dianggap gila ketika kita berbelok dari corak kehidupan masyarakat pada umumnya.
Nikolai Stepanovich adalah seorang dosen kedokteran di salah satu universitas di Petersbugh. Adagium "Semakin tua seseorang, semakin banyak hal-hal yang ingin dikomentarinya" menjadi benar adanya. Usia senja rupanya mampu membuat sang profesor menjadi lebih cerewet. Ia mulai mengomentari keputusan putri mendiang sahabatnya yang sangat ingin menjadi seorang aktris, mempertanyakan keputusan istrinya yang hendak menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang latar pendidikan dan nasab keluarganya tidak jelas, serta mengeluhkan kebiasaan istrinya yang selalu memaksanya untuk meminum berbagai macam pil dengan dalih untuk kesehatannya. Ia yang biasanya memaklumi pilihan orang lain, percaya dengan semua keputusan istrinya tiba-tiba berubah drastis hanya karena satu faktor, usia. Komentar tersebut bukan hanya dalam ruang lingkup keluarga saja melainkan juga dalam bidang profesi yang digelutinya.
Pada pertemuan terakhir, ia berbicara panjang lebar di hadapan murid-muridnya. Ia mengeluhkan tentang jenis-jenis mahasiswanya yang sekarang, yang sangat jauh berbeda dengan tipikal mahasiswa pada zamannya. Meski demikian, ia tetap bangga menjadi dosen mereka. Ia pun menyayangkan bahwa ia harus pensiun dari profesi yang sudah digelutinya beberapa puluh tahun terakhir ini. Hatinya merasa terkoyak-koyak karena ke depannya ia tidak akan lagi berdiri di podium di dalam kelas, tidak lagi menghadapi mahasiswa yang berkonsultasi perihal perkuliahan, dan lain sebagainya. Ia begitu pilu dengan kenyataan pahit yang akan dihadapinya.
Kelihaian Chekov dalam mengolah sebuah cerita pendek tampak dalam cerita berjudul: Wanita dengan Anjing. Ketika Dmitrii Dmitrich Gurov sudah menghabiskan dua minggu di Yalta ia melihat wajah baru di kota itu. Wanita tersebut biasa berjalan mengelilingi kota dengan seekor anjing. Rasa penasaran akan wanita itu membuat Dmitrii Dmitrich Gurov berani untuk mendekatinya. Secara sepintas mungkin kita akan menyangka bahwa kisah cinta antara laki-laki yang bersuami dan perempuan beristri tersebut akan berakhir beserta dengan selesainya liburan mereka. Namun, tidak demikian dengan cerita ini. Bahkan cerita ini berlanjut hingga beberapa tahun setelahnya. Ketika si lelaki mulai jenuh dengan istrinya dan sang perempuan merasa tidak bahagia dengan pernikahannya. Dengan keahliannya, Chekov membuat cerita bertema sederhana menjadi sebuah kisah yang luar biasa.
 Pengalaman Chekov sebagai seorang jurnalis serta penulis majalah komedi membuat tulisan-tulisannya memiliki gaya dan ciri khas tersendiri. Cerita-cerita di dalam buku ini membuktikannya. Banyak orang yang mengagumi dan memuja karya-karyanya, tapi tidak ada yang benar-benar bisa menirunya. Kebesaran Chekov sebagai seorang ahli penulis cerita pendek memang pantas untuk dipuja.

Saturday, June 9, 2018

Pedro Paramo, Juan Rulfo


Rulfo pernah berkata: "Dalam hidupku ada banyak keheningan, begitu juga dalam tulisanku." Persis seperti itulah karya ini dituliskan oleh seorang penulis yang hanya membutuhkan dua karya untuk menasbihkan dirinya sebagai salah satu penulis berpengaruh dalam kancah sastra dunia khususnya Amerika Latin.
Juan Preciado beranjak ke Comala demi menepati janji kepada mendiang ibunya bahwa ia akan mencari ayahnya, Pedro Paramo. Namun, ternyata kota itu telah lama ditinggalkan dan hanya menyisakan satu atau dua orang penghuninya yang masih tersisa. Berdasarkan petunjuk orang-orang yang masih tersisa itulah, Juan Preciado mulai mencari jejak ayahnya. Selama masa pencarian, Juan Preciado banyak mendengar suara-suara, gumaman-gumaman, dan bisikan-bisikan dari sesuatu yang tak berwujud. Ia mendengar berbagai kisah-kisah yang mencekam dari suara-suara yang berasal dari balik dinding, atap rumah yang rubuh, maupun batu jalan. Semua suara-suara itu berkumpul menjadi satu hingga membuat kota itu terbungkus oleh gema yang menyuarakan begitu banyak kepedihan, kesengsaraan, dan cobaan hidup yang terlalu memusingkan.
Paragraf pembuka seperti menyiratkan bahwa buku ini adalah sebuah novel perjalanan seorang anak yang mencoba mencari letak keberadaan ayahnya, tapi ketika kita menyelaminya lebih dalam, novel ini nyatanya lebih jauh dari itu. Juan Preciado tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya akan dipenuhi dengan suara-suara kekecewaan dan isak tangis kehidupan hingga menggiringnya kepada suatu keheningan yang memaksanya untuk tetap setia mendengar semua kisah-kisah yang masuk ke telinganya.
Buku ini adalah buku beraliran realis-magis pertama yang saya baca. Mulanya saya mengira bahwa ini adalah sebuah novel mistis ketika menyadari bahwa seseorang yang berbicara dengan Juan Preciado di rumah tempatnya menginap adalah arwah yang gentayangan. Ketika menyelaminya lebih dalam lagi, saya semakin takjub kepada sang penulis karena berhasil menggabungkan antara yang nyata dan yang tak kasat mata menjadi sebuah karya yang puitis, jernih, dan mengagumkan.
Pada akhirnya, Pedro Paramo adalah sebuah novel yang mampu memberikan kesan yang sangat mendalam bagi para pembacanya. Bahkan Marquez pun mengagumi buku ini. Ia mengaku bahwa ia mampu menuturkan kalimat-kalimat panjang berdasarkan ingatan dan hafal seluruh buku. Sebuah masterpiece yang patut dibaca.

Monday, June 4, 2018

The Trial, Franz Kafka


Bagi Franz Kafka, mungkin kehidupan tak lebih dari sebuah kesengsaraan. Setidaknya begitulah kesan yang ditinggalkan buku ini. Josef K, seorang kepala kepegawaian di salah satu bank, harus menjalani sebuah proses pengadilan atas sebuah kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Ketika terbangun, di dalam apartemennya, beberapa orang yang mengaku sebagai pegawai pemerintahan menahannya dengan dalih bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Namun, ketika K menanyai para pegawai perihal kesalahannya, mereka hanya diam dan mengatakan bahwa atasannyalah yang mengetahui perihal kesalahannya. Mereka mengaku hanya menuruti perintah atasan untuk menginterogasinya.

Setelah pagi yang mengerikan itu, hari-hari K berjalan dengan suram. Ia yang seharusnya menjalani hari-hari penuh dengan kenyamanan karena posisinya yang tinggi di kantor, justru menghabiskan hari-hari dengan penuh ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Perhatiannya tertumpah seluruhnya pada sebuah proses yang harus dijalaninya. Tiada hari yang ia lalui tanpa memikirkan proses itu.
Keinginan agar kasusnya segera selesai mempertemukannya dengan pengacara Huld. Namun, pengacara itu pada akhirnya tidak banyak membantu. Pun sama halnya dengan seorang pelukis yang mengaku sering melukis para pejabat di pengadilan. Dari sang pelukis, ia hanya mengetahui jenis-jenis pembebasan yang dikeluarkan oleh pengadilan untuk sebuah kasus yang mirip dengan kasus K; pembebasan penuh, pembebasan semu, dan penundaan.
Setiap orang baru yang K temui selalu berkaitan dengan pengadilan. Leni si pembantu pengacara Huld, Pengusaha Block, Pelukis Titorelli beserta anak-anak yang muncul di apartemennya, bahkan Bapa Pendeta di Katedral juga berurusan dengan pengadilan. Semua orang yang berada di sisinya seolah-olah orang-orang yang berkaitan dengan pengadilan. Seakan-akan tingkah lakunya dan apapun yang ia perbuat selalu diawasi pihak pengadilan.
Hingga pada akhirnya, ia berubah menjadi seorang penakut dan penuh dengan kekhawatiran karena sekali saja ia melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan benar-benar menjadi seorang tersangka. Semenjak proses yang pertama, apa yang hadir dalam benak K hanyalah sikap curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Betapa menyedihkan dan mengerikannya kehidupan yang harus K jalani, yang tidak terlalu mengerti siapa sebenarnya pihak yang harus ia hadapi.
Hal lainnya yang ingin Kafka sampaikan adalah bahwa kebebasan adalah kenikmatan tertinggi yang tidak dapat ditandingi kemewahannya. Seperti kata Bapa Pendeta di Katedral yang mengaku sebagai Pendeta Pengadilan. Ia mengisahkan dua orang dengan kedudukan yang berbeda; orang desa dan penjaga pintu pengadilan. Ia berkata, "Bagaimanapun, orang yang bebas kedudukannya lebih tinggi daripada orang terikat melakukan pelayanan. Orang desa itu benar-benar bebas, dia bisa pergi ke mana pun yang dia inginkan sementara si penjaga pintu hanya melayani satu orang yang telah ditetapkan untuknya."
Kebebasan dan kerumitan hidup menjadi sorotan utama Kafka dalam novel ini. Bahwa dalam dunia Kafka, kerumitan dan keruwetan hidup mengambil posisi di hampir semua lini kehidupan. Selama kita masih hidup di dunia, kita tidak akan pernah benar-benar bisa merakan kebebasan dan kemudahan. Itulah mengapa hidup menjadi seperti sebuah kesalahan di mata Kafka.

Tuesday, January 23, 2018

of Mice and Men, John Steinbeck

Sebelum menamatkan Tikus dan Manusia karya John Steinbeck, saya mengira bahwa buku tipis itu menyajikan sebuah kisah persahabatan yang indah. Bahkan saya sempat menunda untuk menyelesaikannya karena tidak ingin cerita tentang dua orang sahabat yang berada di genggaman saya berakhir terlalu cepat. Di pertengahan buku itu, saya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saya kepada George. Si sabar yang dibekali rasa sabar dan penuh perhatian oleh penciptanya untuk mengurus seorang laki-laki bernama Lennie. Di awal-awal cerita, saya menganggap bahwa Lennie adalah salah satu orang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, meski ia adalah seseorang yang bodoh, yang sering mengacaukan pekerjaan yang didapatkan, tapi dengan penuh rasa kasih sayang sahabatnya mau memaafkannya dan memaklumi segala yang diperbuatnya. Namun, pandangan tersebut berubah dan dengan penuh rasa malu kepada diri sendiri, saya harus menarik kembali anggapan saya.
Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan seorang George adalah bagaimana caranya ia membangun khayalan dan impian yang begitu nyata dalam benak sahabatnya. Meski sahabatnya adalah seseorang yang sangat bodoh, yang tidak bisa mengingat begitu saja ucapannya, tapi ia berhasil meyakinkan sahabatnya. Meski ia harus mengulang-ulang setiap perkataannya agar sahabatnya bisa mengingat apa yang ia ucapkan, tapi dengan penuh kelembutan ia pun mampu membuat sahabatnya mengucapkan apa yang harus diucapkannya. Lalu timbul beberapa pertanyaan dalam benak saya, berapa persen dari jumlah total populasi manusia di bumi yang sesabar, sesetia, dan penuh kelembutan sepertinya? Mungkinkah suatu hari nanti saya berteman dengan orang yang memiliki sifat sepertinya? Apakah hidup saya akan terasa sempurna jika di masa depan bertemu dengan seseorang yang bertipikal sama dengannya? Bukan berarti saat ini saya tidak mempunyai sahabat, hanya saja, saya menyukai sifat-sifat yang tertanam dalam diri George.
Hal lain yang membuat saya takjub adalah bagaimana si penulis memberikan alasan yang paling logis untuk sebuah ikatan. Kadang saya berpikir, apakah ada seseorang di dunia ini yang mau menjaga sebuah ikatan tanpa sebuah alasan? Kalaulah ada, ingin rasanya saya duduk berdua dengannya dan mendengar penjelasannya terkait sebuah hubungan yang sedang ia jalani. Saya memiliki sebuah pemikiran bahwa manusia adalah makhluk yang senang mencari-cari alasan atas setiap perbuatan yang ia lakukan supaya tindakannya bisa dipertanggungjawabkan di hadapan orang lain. Banyak sekali manusia yang senang bertanya mengenai suatu tindakan yang dilakukan oleh orang yang ia kenal, yang kalau tidak sesuai dengan pemikirannya seringkali ia menjatuhkan temannya itu. Menghadapi kenyataan yang demikian, saya sering bertanya kepada diri sendiri, kira-kira apa alasan yang paling masuk akal jika suatu saat ada orang yang tidak suka dengan apa yang saya lakukan? Sebuah alasan yang sekiranya tak mampu lagi ditampik oleh orang yang bertanya kepada saya? si penulis memberikan saya sebuah alasan yang sepertinya akan saya gunakan mulai sekarang. Alasan tersebut tidak lain adalah pembiasaan. “Tentu saja Lennie menyusahkan, tapi kau jadi terbiasa jalan dengan seseorang dan kau tidak bisa menyingkirkannya,” begitulah yang dikatakan George (meskipun pada akhirnya ia tidak merealisasikan ucapannya karena suatu masalah yang diperbuat sahabatnya). Lamanya waktu yang ia habiskan bersama sahabatnya membuatnya memaklumi kebodohan demi kebodohan yang dilakukan sahabatnya sebelum tragedi yang begitu pahit itu terjadi. Alasan ini terdengar begitu masuk akal bagi saya.

Elemen terakhir yang membuat saya betah untuk tidak berpindah ke lain buku adalah bagaimana si pengarang mendeskripsikan setiap tempat yang dinaungi tokoh-tokoh dalam ceritanya. Penggambarannya begitu hidup seolah-olah kita ada di samping tokoh dalam setiap reka adegan di dalam buku ini.

Monday, January 22, 2018

Tahun-tahun Cahaya dan Kisah Cosmicomic lainnya, Italo Calvino

Ada begitu banyak alasan mengapa seorang penulis mengarang sebuah karya. Sebagian orang meluapkan kepedihan-kepedihan mereka ke dalam sebuah tulisan. Tulisan-tulisan mereka umumnya menyiratkan kegelapan dan penuh kemurungan. Ernest Hemingway, F. S. Fitzgerald, dan Kafka masuk ke dalam kelompok ini. Sebagian yang lain, menulis dengan niatan untuk menghibur orang lain melalui kata-kata yang mengundang gelak tawa sehingga para pembacanya merasa terhibur ketika membaca lawakannya. Saya rasa Kurt Vonnegut dan Etgar Keret masuk ke dalam golongan ini. Sementara sebagian lainnya, menulis karena ingin mengusir kegelisahan-kegelisahannya atas pelbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya mengenai realitas tempat di mana seseorang itu berpijak. Tolstoy, Dostoyevsky, dan Italo Calvino masuk ke dalam golongan yang ketiga ini. Setidaknya begitulah menurut saya. Ini murni sebuah subjektivitas.
Semua penulis memang memiliki unsur-unsur kemurungan, kelucuan, dan kegelisahan atas fenomena yang terjadi di sekitar dalam setiap karya-karya mereka, tapi selalu ada satu macam pandangan yang melekat dalam diri seorang penulis ketika kita menyebutkan nama-nama penulis di dunia yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Mengapa saya memasukkan nama Italo Calvino sebagai penulis yang masuk ke dalam golongan ketiga dan bukan sebagai penulis dengan selera humor yang tinggi? Saya rasa buku Tahun-tahun Cahaya dan Kisah Cosmicomis lainnya sedikit banyak menjawab pertanyaan tersebut. Dalam buku tersebut, Italo Calvino mencoba bermain-main dengan kegelisahannya mengenai realitas, semesta, serta sifat-sifat manusia. Dalam kata pengantar dari pihak penerjemah, cerita-cerita di dalam buku itu adalah sebuah respon dari sang penulis berkebangsaan Italia itu atas persaingan sengit yang melibatkan dua negera adidaya dunia kala itu; Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Antara tahun 1957 – 1969 dua negara yang memprakarsai perang dingin itu saling bersaing untuk menunjukkan kepada dunia siapa yang paling kuat di antara mereka. Dan yang paling kentara adalah dalam perlombaan ruang angkasa. Perlombaan ruang angkasa melibatkan upaya perintis untuk meluncurkan satelit buatan, sub-orbital, penerbangan dengan awak keluar orbit bumi, hingga perjalanan ke bulan. Keberhasilan Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik 1 buatan Uni Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957 membuat Amerika berang. Salah satu upaya Amerika untuk mengungguli musuhnya adalah dibentuknya lembaga penelitian luar angkasa yang kini kita kenal sebagai NASA. Upaya tersebut membuahkan hasil. Amerika berhasil mendaratkan komandan Neil Armstrong sebagai manusia pertama yang berhasil menjajakkan kakinya di bulan sekaligus mengukuhkan Amerika sebagai negara terkuat di dunia.
Jika kita membaca kisah-kisah dalam buku ini, kita akan mendapati bahwa cerita-cerita yang ada di dalam buku berkaitan erat dengan ruang angkasa dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti bulan, cahaya, dan makhluk pertama yang menghuni bumi. Dalam kisah Jarak Bulan misalnya, dikisahkan bahwa jarak antara bumi dengan bulan hanya beberapa jengkal saja sehingga para makhluk dengan leluasa bisa memanjat bulan sesuka hati mereka. Atau dalam cerita yang menjadi judul buku ini, Italo mencoba bermain-main dengan ruang dan waktu, di mana tulisan yang terlihat di bumi baru bisa terlihat di angkasa seratus tahun setelahnya. Atau kisah tentang Dinosaurus yang telah punah beribu-ribu tahun lamanya, tapi masih menyisakan satu keturunan asli mereka yang harus hidup di sebuah zaman yang sudah sepenuhnya berubah.

Buku ini memang tergolong ke dalam karya Italo Calvino dengan pembahasan yang cukup serius. Buku ini tidak bisa dihabiskan hanya dalam sekali baca. Meski demikian, bukan Italo Calvino namanya jika ia tidak mampu menyisipkan humor-humor khas miliknya. Kelihaiannya menggali sisi terdalam manusia juga menjadi alasan mengapa karya-karyanya patut dibaca. Saya rasa, sang maestro benar-benar membuat tanggapan yang sangat elegan atas peristiwa yang terjadi di zamannya.

Thursday, January 11, 2018

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan

Saya tak tahu bagaimana dengan yang lain, tapi memiliki seorang atau banyak sahabat adalah sebuah keharusan yang tidak bisa saya tawar. Saya tak bisa membayangkan bagaimana diri saya jadinya tanpa kehadiran sahabat. Ke mana saya harus berbagi kesedihan maupun kebahagiaan jika tidak kepada sahabat. Untuk seorang yang sudah terbiasa jauh dari jangkauan orang tua, memiliki sahabat di tempat perantauan merupakan sebuah keniscayaan. Pastinya ada berbagai rasa yang kita dapatkan setiap harinya, entah itu suka maupun duka, dan jika perasaan tersebut tidak diungkapkan, seperti ada yang mengganjal di dalam hati. Setidaknya begitulah yang saya rasakan.
 Kalaulah ada seseorang yang bertanya perihal tipikal sahabat yang saya inginkan di dalam hidup, saya tidak akan ragu menjawab bahwa tipe sahabat yang setialah saya butuhkan. Sahabat yang setia adalah, yang dengan senang hati mendukung setiap keputusan yang saya tentukan, yang dengan sukarela mau mengikuti ke manapun saya melangkah, yang tidak mudah berpaling ke manusia lain jika ada suatu hal buruk yang menimpa saya, yang meskipun tingkah saya menyebalkan, ia masih tetap mau berdiri dan berjalan di dekat saya, yang dengan senang hati membantu ketika saya susah, yang selalu memihak saya, apapun yang terjadi. Apakah ada tipikal seseorang yang seperti itu? Ada. Namun, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini karena kalian tidak akan mengenalnya. Saya lebih memilih nama yang lebih terkenal, yakni Si Tokek. Kesetiaan Si Tokek kepada Ajo Kawir, dalam buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sedikit banyak menggambarkan bagaimana kisah persahabatan saya dengan teman saya. Kesetiaan Si Tokek yang tidak menikah karena rasa bersalahnya kepada sahabatnya, Ajo Kawir, yang membuat kemaluan sahabatnya itu tidak bisa berdiri, memantik keinginan saya untuk menceritakan betapa setianya sahabat-sahabat saya.
Beberapa bulan setelah saya resmi menginjakkan kaki di Jakarta, saya terserang  Demam Berdarah. Ketakutan saya yang pertama adalah terkait mahalnya biaya rumah sakit di Ibukota. Saya anak kemaren sore di Jakarta, tabungan saya juga tidak mencukupi untuk membayar biaya menginap. Namun, sahabat-sahabat saya berkali-kali meyakinkan saya untuk tidak perlu khawatir terkait biaya rumah sakit. Saya begitu terharu mendengar kata-kata itu. Setelah delapan hari di rumah sakit, saya akhirnya sembuh kembali. Kebahagiaan yang pertama adalah, akhirnya saya bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Kebahagiaan yang kedua adalah saya mengetahui bahwa sahabat-sahabat saya, yang tahun ini sudah bersama-sama selama sepuluh tahun, selalu ada menemani saya di rumah sakit. Tidak hanya menemani, mereka juga mencarikan saya bantuan biaya hingga saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya berobat dan menginap. Saya bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka di samping saya.
Kenyamanan saya hidup di Jakarta tidak lain karena kehadiran mereka. Begitu pula untuk tahun-tahun sebelumnya, saya betah berlama-lama di kampung orang karena kehadiran orang-orang yang dengan senang hati membagi kesedihan dan kebahagiaan mereka dengan saya. tidak terbayangkan bagaimana jika orang-orang hebat itu tidak pernah singgah dalam hidup. Saya bersyukur karena tipikal teman yang saya inginkan telah hadir dalam hidup saya.