Monday, June 4, 2018

The Trial, Franz Kafka


Bagi Franz Kafka, mungkin kehidupan tak lebih dari sebuah kesengsaraan. Setidaknya begitulah kesan yang ditinggalkan buku ini. Josef K, seorang kepala kepegawaian di salah satu bank, harus menjalani sebuah proses pengadilan atas sebuah kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Ketika terbangun, di dalam apartemennya, beberapa orang yang mengaku sebagai pegawai pemerintahan menahannya dengan dalih bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Namun, ketika K menanyai para pegawai perihal kesalahannya, mereka hanya diam dan mengatakan bahwa atasannyalah yang mengetahui perihal kesalahannya. Mereka mengaku hanya menuruti perintah atasan untuk menginterogasinya.

Setelah pagi yang mengerikan itu, hari-hari K berjalan dengan suram. Ia yang seharusnya menjalani hari-hari penuh dengan kenyamanan karena posisinya yang tinggi di kantor, justru menghabiskan hari-hari dengan penuh ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Perhatiannya tertumpah seluruhnya pada sebuah proses yang harus dijalaninya. Tiada hari yang ia lalui tanpa memikirkan proses itu.
Keinginan agar kasusnya segera selesai mempertemukannya dengan pengacara Huld. Namun, pengacara itu pada akhirnya tidak banyak membantu. Pun sama halnya dengan seorang pelukis yang mengaku sering melukis para pejabat di pengadilan. Dari sang pelukis, ia hanya mengetahui jenis-jenis pembebasan yang dikeluarkan oleh pengadilan untuk sebuah kasus yang mirip dengan kasus K; pembebasan penuh, pembebasan semu, dan penundaan.
Setiap orang baru yang K temui selalu berkaitan dengan pengadilan. Leni si pembantu pengacara Huld, Pengusaha Block, Pelukis Titorelli beserta anak-anak yang muncul di apartemennya, bahkan Bapa Pendeta di Katedral juga berurusan dengan pengadilan. Semua orang yang berada di sisinya seolah-olah orang-orang yang berkaitan dengan pengadilan. Seakan-akan tingkah lakunya dan apapun yang ia perbuat selalu diawasi pihak pengadilan.
Hingga pada akhirnya, ia berubah menjadi seorang penakut dan penuh dengan kekhawatiran karena sekali saja ia melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan benar-benar menjadi seorang tersangka. Semenjak proses yang pertama, apa yang hadir dalam benak K hanyalah sikap curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Betapa menyedihkan dan mengerikannya kehidupan yang harus K jalani, yang tidak terlalu mengerti siapa sebenarnya pihak yang harus ia hadapi.
Hal lainnya yang ingin Kafka sampaikan adalah bahwa kebebasan adalah kenikmatan tertinggi yang tidak dapat ditandingi kemewahannya. Seperti kata Bapa Pendeta di Katedral yang mengaku sebagai Pendeta Pengadilan. Ia mengisahkan dua orang dengan kedudukan yang berbeda; orang desa dan penjaga pintu pengadilan. Ia berkata, "Bagaimanapun, orang yang bebas kedudukannya lebih tinggi daripada orang terikat melakukan pelayanan. Orang desa itu benar-benar bebas, dia bisa pergi ke mana pun yang dia inginkan sementara si penjaga pintu hanya melayani satu orang yang telah ditetapkan untuknya."
Kebebasan dan kerumitan hidup menjadi sorotan utama Kafka dalam novel ini. Bahwa dalam dunia Kafka, kerumitan dan keruwetan hidup mengambil posisi di hampir semua lini kehidupan. Selama kita masih hidup di dunia, kita tidak akan pernah benar-benar bisa merakan kebebasan dan kemudahan. Itulah mengapa hidup menjadi seperti sebuah kesalahan di mata Kafka.

0 komentar:

Post a Comment