Sebelum
menamatkan Tikus dan Manusia karya John Steinbeck, saya mengira bahwa buku
tipis itu menyajikan sebuah kisah persahabatan yang indah. Bahkan saya sempat
menunda untuk menyelesaikannya karena tidak ingin cerita tentang dua orang
sahabat yang berada di genggaman saya berakhir terlalu cepat. Di pertengahan
buku itu, saya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saya kepada George. Si sabar
yang dibekali rasa sabar dan penuh perhatian oleh penciptanya untuk mengurus
seorang laki-laki bernama Lennie. Di awal-awal cerita, saya menganggap bahwa
Lennie adalah salah satu orang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak,
meski ia adalah seseorang yang bodoh, yang sering mengacaukan pekerjaan yang
didapatkan, tapi dengan penuh rasa kasih sayang sahabatnya mau memaafkannya dan
memaklumi segala yang diperbuatnya. Namun, pandangan tersebut berubah dan
dengan penuh rasa malu kepada diri sendiri, saya harus menarik kembali anggapan
saya.
Salah
satu hal yang membuat saya kagum dengan seorang George adalah bagaimana caranya
ia membangun khayalan dan impian yang begitu nyata dalam benak sahabatnya. Meski
sahabatnya adalah seseorang yang sangat bodoh, yang tidak bisa mengingat begitu
saja ucapannya, tapi ia berhasil meyakinkan sahabatnya. Meski ia harus
mengulang-ulang setiap perkataannya agar sahabatnya bisa mengingat apa yang ia
ucapkan, tapi dengan penuh kelembutan ia pun mampu membuat sahabatnya
mengucapkan apa yang harus diucapkannya. Lalu timbul beberapa pertanyaan dalam
benak saya, berapa persen dari jumlah total populasi manusia di bumi yang
sesabar, sesetia, dan penuh kelembutan sepertinya? Mungkinkah suatu hari nanti
saya berteman dengan orang yang memiliki sifat sepertinya? Apakah hidup saya akan
terasa sempurna jika di masa depan bertemu dengan seseorang yang bertipikal
sama dengannya? Bukan berarti saat ini saya tidak mempunyai sahabat, hanya
saja, saya menyukai sifat-sifat yang tertanam dalam diri George.
Hal
lain yang membuat saya takjub adalah bagaimana si penulis memberikan alasan
yang paling logis untuk sebuah ikatan. Kadang saya berpikir, apakah ada
seseorang di dunia ini yang mau menjaga sebuah ikatan tanpa sebuah alasan? Kalaulah
ada, ingin rasanya saya duduk berdua dengannya dan mendengar penjelasannya
terkait sebuah hubungan yang sedang ia jalani. Saya memiliki sebuah pemikiran
bahwa manusia adalah makhluk yang senang mencari-cari alasan atas setiap
perbuatan yang ia lakukan supaya tindakannya bisa dipertanggungjawabkan di
hadapan orang lain. Banyak sekali manusia yang senang bertanya mengenai suatu
tindakan yang dilakukan oleh orang yang ia kenal, yang kalau tidak sesuai
dengan pemikirannya seringkali ia menjatuhkan temannya itu. Menghadapi
kenyataan yang demikian, saya sering bertanya kepada diri sendiri, kira-kira apa
alasan yang paling masuk akal jika suatu saat ada orang yang tidak suka dengan
apa yang saya lakukan? Sebuah alasan yang sekiranya tak mampu lagi ditampik
oleh orang yang bertanya kepada saya? si penulis memberikan saya sebuah alasan
yang sepertinya akan saya gunakan mulai sekarang. Alasan tersebut tidak lain
adalah pembiasaan. “Tentu saja Lennie menyusahkan, tapi kau jadi terbiasa jalan
dengan seseorang dan kau tidak bisa menyingkirkannya,” begitulah yang dikatakan
George (meskipun pada akhirnya ia tidak merealisasikan ucapannya karena suatu
masalah yang diperbuat sahabatnya). Lamanya waktu yang ia habiskan bersama
sahabatnya membuatnya memaklumi kebodohan demi kebodohan yang dilakukan
sahabatnya sebelum tragedi yang begitu pahit itu terjadi. Alasan ini terdengar
begitu masuk akal bagi saya.
Elemen
terakhir yang membuat saya betah untuk tidak berpindah ke lain buku adalah
bagaimana si pengarang mendeskripsikan setiap tempat yang dinaungi tokoh-tokoh
dalam ceritanya. Penggambarannya begitu hidup seolah-olah kita ada di samping
tokoh dalam setiap reka adegan di dalam buku ini.