Tuesday, January 23, 2018

of Mice and Men, John Steinbeck

Sebelum menamatkan Tikus dan Manusia karya John Steinbeck, saya mengira bahwa buku tipis itu menyajikan sebuah kisah persahabatan yang indah. Bahkan saya sempat menunda untuk menyelesaikannya karena tidak ingin cerita tentang dua orang sahabat yang berada di genggaman saya berakhir terlalu cepat. Di pertengahan buku itu, saya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saya kepada George. Si sabar yang dibekali rasa sabar dan penuh perhatian oleh penciptanya untuk mengurus seorang laki-laki bernama Lennie. Di awal-awal cerita, saya menganggap bahwa Lennie adalah salah satu orang paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, meski ia adalah seseorang yang bodoh, yang sering mengacaukan pekerjaan yang didapatkan, tapi dengan penuh rasa kasih sayang sahabatnya mau memaafkannya dan memaklumi segala yang diperbuatnya. Namun, pandangan tersebut berubah dan dengan penuh rasa malu kepada diri sendiri, saya harus menarik kembali anggapan saya.
Salah satu hal yang membuat saya kagum dengan seorang George adalah bagaimana caranya ia membangun khayalan dan impian yang begitu nyata dalam benak sahabatnya. Meski sahabatnya adalah seseorang yang sangat bodoh, yang tidak bisa mengingat begitu saja ucapannya, tapi ia berhasil meyakinkan sahabatnya. Meski ia harus mengulang-ulang setiap perkataannya agar sahabatnya bisa mengingat apa yang ia ucapkan, tapi dengan penuh kelembutan ia pun mampu membuat sahabatnya mengucapkan apa yang harus diucapkannya. Lalu timbul beberapa pertanyaan dalam benak saya, berapa persen dari jumlah total populasi manusia di bumi yang sesabar, sesetia, dan penuh kelembutan sepertinya? Mungkinkah suatu hari nanti saya berteman dengan orang yang memiliki sifat sepertinya? Apakah hidup saya akan terasa sempurna jika di masa depan bertemu dengan seseorang yang bertipikal sama dengannya? Bukan berarti saat ini saya tidak mempunyai sahabat, hanya saja, saya menyukai sifat-sifat yang tertanam dalam diri George.
Hal lain yang membuat saya takjub adalah bagaimana si penulis memberikan alasan yang paling logis untuk sebuah ikatan. Kadang saya berpikir, apakah ada seseorang di dunia ini yang mau menjaga sebuah ikatan tanpa sebuah alasan? Kalaulah ada, ingin rasanya saya duduk berdua dengannya dan mendengar penjelasannya terkait sebuah hubungan yang sedang ia jalani. Saya memiliki sebuah pemikiran bahwa manusia adalah makhluk yang senang mencari-cari alasan atas setiap perbuatan yang ia lakukan supaya tindakannya bisa dipertanggungjawabkan di hadapan orang lain. Banyak sekali manusia yang senang bertanya mengenai suatu tindakan yang dilakukan oleh orang yang ia kenal, yang kalau tidak sesuai dengan pemikirannya seringkali ia menjatuhkan temannya itu. Menghadapi kenyataan yang demikian, saya sering bertanya kepada diri sendiri, kira-kira apa alasan yang paling masuk akal jika suatu saat ada orang yang tidak suka dengan apa yang saya lakukan? Sebuah alasan yang sekiranya tak mampu lagi ditampik oleh orang yang bertanya kepada saya? si penulis memberikan saya sebuah alasan yang sepertinya akan saya gunakan mulai sekarang. Alasan tersebut tidak lain adalah pembiasaan. “Tentu saja Lennie menyusahkan, tapi kau jadi terbiasa jalan dengan seseorang dan kau tidak bisa menyingkirkannya,” begitulah yang dikatakan George (meskipun pada akhirnya ia tidak merealisasikan ucapannya karena suatu masalah yang diperbuat sahabatnya). Lamanya waktu yang ia habiskan bersama sahabatnya membuatnya memaklumi kebodohan demi kebodohan yang dilakukan sahabatnya sebelum tragedi yang begitu pahit itu terjadi. Alasan ini terdengar begitu masuk akal bagi saya.

Elemen terakhir yang membuat saya betah untuk tidak berpindah ke lain buku adalah bagaimana si pengarang mendeskripsikan setiap tempat yang dinaungi tokoh-tokoh dalam ceritanya. Penggambarannya begitu hidup seolah-olah kita ada di samping tokoh dalam setiap reka adegan di dalam buku ini.

Monday, January 22, 2018

Tahun-tahun Cahaya dan Kisah Cosmicomic lainnya, Italo Calvino

Ada begitu banyak alasan mengapa seorang penulis mengarang sebuah karya. Sebagian orang meluapkan kepedihan-kepedihan mereka ke dalam sebuah tulisan. Tulisan-tulisan mereka umumnya menyiratkan kegelapan dan penuh kemurungan. Ernest Hemingway, F. S. Fitzgerald, dan Kafka masuk ke dalam kelompok ini. Sebagian yang lain, menulis dengan niatan untuk menghibur orang lain melalui kata-kata yang mengundang gelak tawa sehingga para pembacanya merasa terhibur ketika membaca lawakannya. Saya rasa Kurt Vonnegut dan Etgar Keret masuk ke dalam golongan ini. Sementara sebagian lainnya, menulis karena ingin mengusir kegelisahan-kegelisahannya atas pelbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya mengenai realitas tempat di mana seseorang itu berpijak. Tolstoy, Dostoyevsky, dan Italo Calvino masuk ke dalam golongan yang ketiga ini. Setidaknya begitulah menurut saya. Ini murni sebuah subjektivitas.
Semua penulis memang memiliki unsur-unsur kemurungan, kelucuan, dan kegelisahan atas fenomena yang terjadi di sekitar dalam setiap karya-karya mereka, tapi selalu ada satu macam pandangan yang melekat dalam diri seorang penulis ketika kita menyebutkan nama-nama penulis di dunia yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Mengapa saya memasukkan nama Italo Calvino sebagai penulis yang masuk ke dalam golongan ketiga dan bukan sebagai penulis dengan selera humor yang tinggi? Saya rasa buku Tahun-tahun Cahaya dan Kisah Cosmicomis lainnya sedikit banyak menjawab pertanyaan tersebut. Dalam buku tersebut, Italo Calvino mencoba bermain-main dengan kegelisahannya mengenai realitas, semesta, serta sifat-sifat manusia. Dalam kata pengantar dari pihak penerjemah, cerita-cerita di dalam buku itu adalah sebuah respon dari sang penulis berkebangsaan Italia itu atas persaingan sengit yang melibatkan dua negera adidaya dunia kala itu; Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Antara tahun 1957 – 1969 dua negara yang memprakarsai perang dingin itu saling bersaing untuk menunjukkan kepada dunia siapa yang paling kuat di antara mereka. Dan yang paling kentara adalah dalam perlombaan ruang angkasa. Perlombaan ruang angkasa melibatkan upaya perintis untuk meluncurkan satelit buatan, sub-orbital, penerbangan dengan awak keluar orbit bumi, hingga perjalanan ke bulan. Keberhasilan Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik 1 buatan Uni Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957 membuat Amerika berang. Salah satu upaya Amerika untuk mengungguli musuhnya adalah dibentuknya lembaga penelitian luar angkasa yang kini kita kenal sebagai NASA. Upaya tersebut membuahkan hasil. Amerika berhasil mendaratkan komandan Neil Armstrong sebagai manusia pertama yang berhasil menjajakkan kakinya di bulan sekaligus mengukuhkan Amerika sebagai negara terkuat di dunia.
Jika kita membaca kisah-kisah dalam buku ini, kita akan mendapati bahwa cerita-cerita yang ada di dalam buku berkaitan erat dengan ruang angkasa dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti bulan, cahaya, dan makhluk pertama yang menghuni bumi. Dalam kisah Jarak Bulan misalnya, dikisahkan bahwa jarak antara bumi dengan bulan hanya beberapa jengkal saja sehingga para makhluk dengan leluasa bisa memanjat bulan sesuka hati mereka. Atau dalam cerita yang menjadi judul buku ini, Italo mencoba bermain-main dengan ruang dan waktu, di mana tulisan yang terlihat di bumi baru bisa terlihat di angkasa seratus tahun setelahnya. Atau kisah tentang Dinosaurus yang telah punah beribu-ribu tahun lamanya, tapi masih menyisakan satu keturunan asli mereka yang harus hidup di sebuah zaman yang sudah sepenuhnya berubah.

Buku ini memang tergolong ke dalam karya Italo Calvino dengan pembahasan yang cukup serius. Buku ini tidak bisa dihabiskan hanya dalam sekali baca. Meski demikian, bukan Italo Calvino namanya jika ia tidak mampu menyisipkan humor-humor khas miliknya. Kelihaiannya menggali sisi terdalam manusia juga menjadi alasan mengapa karya-karyanya patut dibaca. Saya rasa, sang maestro benar-benar membuat tanggapan yang sangat elegan atas peristiwa yang terjadi di zamannya.

Thursday, January 11, 2018

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan

Saya tak tahu bagaimana dengan yang lain, tapi memiliki seorang atau banyak sahabat adalah sebuah keharusan yang tidak bisa saya tawar. Saya tak bisa membayangkan bagaimana diri saya jadinya tanpa kehadiran sahabat. Ke mana saya harus berbagi kesedihan maupun kebahagiaan jika tidak kepada sahabat. Untuk seorang yang sudah terbiasa jauh dari jangkauan orang tua, memiliki sahabat di tempat perantauan merupakan sebuah keniscayaan. Pastinya ada berbagai rasa yang kita dapatkan setiap harinya, entah itu suka maupun duka, dan jika perasaan tersebut tidak diungkapkan, seperti ada yang mengganjal di dalam hati. Setidaknya begitulah yang saya rasakan.
 Kalaulah ada seseorang yang bertanya perihal tipikal sahabat yang saya inginkan di dalam hidup, saya tidak akan ragu menjawab bahwa tipe sahabat yang setialah saya butuhkan. Sahabat yang setia adalah, yang dengan senang hati mendukung setiap keputusan yang saya tentukan, yang dengan sukarela mau mengikuti ke manapun saya melangkah, yang tidak mudah berpaling ke manusia lain jika ada suatu hal buruk yang menimpa saya, yang meskipun tingkah saya menyebalkan, ia masih tetap mau berdiri dan berjalan di dekat saya, yang dengan senang hati membantu ketika saya susah, yang selalu memihak saya, apapun yang terjadi. Apakah ada tipikal seseorang yang seperti itu? Ada. Namun, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini karena kalian tidak akan mengenalnya. Saya lebih memilih nama yang lebih terkenal, yakni Si Tokek. Kesetiaan Si Tokek kepada Ajo Kawir, dalam buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sedikit banyak menggambarkan bagaimana kisah persahabatan saya dengan teman saya. Kesetiaan Si Tokek yang tidak menikah karena rasa bersalahnya kepada sahabatnya, Ajo Kawir, yang membuat kemaluan sahabatnya itu tidak bisa berdiri, memantik keinginan saya untuk menceritakan betapa setianya sahabat-sahabat saya.
Beberapa bulan setelah saya resmi menginjakkan kaki di Jakarta, saya terserang  Demam Berdarah. Ketakutan saya yang pertama adalah terkait mahalnya biaya rumah sakit di Ibukota. Saya anak kemaren sore di Jakarta, tabungan saya juga tidak mencukupi untuk membayar biaya menginap. Namun, sahabat-sahabat saya berkali-kali meyakinkan saya untuk tidak perlu khawatir terkait biaya rumah sakit. Saya begitu terharu mendengar kata-kata itu. Setelah delapan hari di rumah sakit, saya akhirnya sembuh kembali. Kebahagiaan yang pertama adalah, akhirnya saya bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Kebahagiaan yang kedua adalah saya mengetahui bahwa sahabat-sahabat saya, yang tahun ini sudah bersama-sama selama sepuluh tahun, selalu ada menemani saya di rumah sakit. Tidak hanya menemani, mereka juga mencarikan saya bantuan biaya hingga saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya berobat dan menginap. Saya bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka di samping saya.
Kenyamanan saya hidup di Jakarta tidak lain karena kehadiran mereka. Begitu pula untuk tahun-tahun sebelumnya, saya betah berlama-lama di kampung orang karena kehadiran orang-orang yang dengan senang hati membagi kesedihan dan kebahagiaan mereka dengan saya. tidak terbayangkan bagaimana jika orang-orang hebat itu tidak pernah singgah dalam hidup. Saya bersyukur karena tipikal teman yang saya inginkan telah hadir dalam hidup saya.