Suatu
ketika Milan Kundera pernah mendawuh bahwa ketika seseorang menganggap nilai
dalam diri mereka sendiri sebagai ukuran tentang suatu kebenaran, maka mereka
berubah menjadi seseorang yang menakutkan. Hal ini terpampang dengan jelas
dalam novel Kejahatan dan Hukuman karya Fyodor Dostoyevsky.
Raskolnikov
merupakan seorang pemuda miskin yang tinggal di Petersburg. Karena ia tidak
memiliki cukup biaya, ia harus menanggung derita dikeluarkan dari kampus. Tidak
hanya itu, ia juga harus menanggung amarah induk semangnya sebab sudah beberapa
bulan berlalu semenjak terakhir kali ia menyerahkan uang kontrakannya.
Karena
kemiskinannya itulah terbesit di dalam kepalanya untuk membunuh seorang wanita
paruh baya pemilik pegadaian tempat ia sering menggadaikan barang-barangnya. Namun,
ia tidak serta merta menunaikannya karena perasaan takut akan dipenjara
menghantuinya.
Saat
ia tengah dalam keadaan bimbang, ia mendengar orang-orang yang menggibahkan
perihal si wanita tua pemilik pegadaian. Mereka mengatakan bahwa wanita patut
mati karena ia sering berbuat buruk terhadap orang lain.
Mendengar
ucapan tersebut, si pemuda miskin pun merasa tergugah. Ia mulai berpikiran
bahwa membunuh wanita itu tidak apa-apa sebab banyak orang yang tidak menyukai
kehadirannya. Rasa simpatiknya terhadap orang-orang yang tidak menyukai
perempuan tersebut pun akhirnya membuat pemuda itu membulatkan tekadnya untuk
menidurkan si wanita pegadaian untuk selama-lamanya.
Dalam
novel ini, sekali lagi Dostoyevsky menampakkan keahliannya dalam menyelami sisi
terdalam manusia. Semua tokoh dalam buku ini kerap diperas perhatiannya atas
setiap keputusan yang telah dan akan mereka ambil dalam hidupnya.
Semua
tokoh dalam novel ini berhasil memainkan peran mereka masing-masing terlebih
lagi sang tokoh utama, si pemuda miskin Raskolnikov.