Monday, November 26, 2018

Kepada Siapa Genta Berdentangan, Ernest Hemingway


Maxwell Evarts Perkins pernah mengatakan dalam buku biografinya bahwa tulisan-tulisan Ernest Hemingway mencakup tema ‘manusia yang berlaku mulia saat berhadapan dengan pilihan sulit’. Hal itu terlihat jelas dalam karya-karyanya seperti The Old Man and The Sea, A Farewell to Arms, serta For Whom The Bell Tolls. Dalam The Old Man and The Sea, Santiago, tokoh utama dalam cerita, meski sudah renta tetap berlayar untuk mencari ikan karena tidak tahan dengan omongan para tetangga yang menganggap bahwa hidupnya dipenuhi kesialan. Ia diambang dua pilihan yang sangat sulit; menetap atau berlayar. Begitu pula dalam novel A Farewell to Arms, Letnan Kolonel Henry dihadapkan pada dua pilihan yang membuatnya dilema; tetap bertempur sebagai seorang prajurit atau kabur bersama wanita yang dicintainya. Gambaran seseorang yang terjebak dalam dua pilihan yang sulit ini juga tampak dalam novel Kepada Siapa Genta Berdentangan.
Novel tersebut merupakan hasil laporan Hemingway atas perang saudara yang terjadi pada musim semi tahun 1937 di Spanyol. Novel yang dipersembahkan untuk Martha Gellhorn, wanita yang dikemudian hari menjadi istri Hemingway, menghadirkan sebuah gambaran apik mengenai Spanyol, kengerian perang, dan kisah cinta yang membara.
Robert Jordan mengemban amanat yang diberikan oleh atasannya, Jenderal Golz, Komandan Divisi 35 Pasukan Merah, untuk menghancurkan sebuah jembatan yang dipakai oleh pasukan fasis untuk menggerakkan bala bantuan ketika sewaktu-waktu mereka diserang musuh. Perintah yang sederhana, namun tidak sesederhana kelihatannya. Ia harus merencanakan secara matang agar misi yang ia emban terlaksana dengan sempurna. Tanpa cacat. Ia menyadari bahwa keberlangsungan hidup atas nama keadilan dan kesetaraan di negeri Matador itu berada di tangannya.
Berbekal dua buah ransel penuh bom dengan dipandu oleh seorang kakek tua bernama Anselmo, ia pun akhirnya berhasil menemukan jembatan yang harus ia remukkan. Melalui kakek tua itu, Robert Jordan bertemu dengan banyak pejuang yang tersingkirkan. Mereka adalah para pejuang republik yang melawan kekejaman kaum fasis. Dari setiap cerita yang digaungkan, betapa mengerikannya potret perang kala itu.
Spanyol menjadi ladang pertempuran antar dua ideologi besar kala itu; komunis dan fasis. Perang tersebut merupakan pemanasan sebelum terjadinya Perang Dunia II. Spanyol menjadi tempat pembunuhan massal oleh dua kubu raksasa itu sehingga menimbulkan trauma yang cukup signifikan di benak korban masing-masing kubu. Begitulah yang dialami setiap tokoh yang ada di dalam buku ini; Pablo, Pilar, Maria, Anselmo, Andres, Primitivo, dan para pejuang republik lainnya. Setiap kali mereka mendengar kata ‘Fasis’ apa yang terbesit dibenak mereka hanyalah luka dan luka.
Mereka yang kini menjadi korban adalah para pelaku kejahatan di masa sebelumnya. Ketika berkuasa, mereka juga melakukan pembantaian terhadap para fasis yang hidup di sekitar mereka. Maka ketika mereka menjadi buronan, mereka dihantui akan dosa yang telah mereka perbuat. Bayangan mengenai pembantaian manusia menggunakan alat-alat pertanian, perabotan rumah, granat, dan senjata apapun yang bisa dipakai untuk membunuh kaum fasis selalu menghantui malam-malam nan sunyi di dalam gua persembunyian mereka.
Hingga di suatu titik, setiap orang merindukan kedamaian dan usainya perang. Mereka merindukan hari-hari di mana mereka bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai tanpa harus dirundung rasa takut. Mereka berjuang, bersekutu, dan melawan kaum yang menindas mereka untuk sebuah masa depan yang penuh dengan kebebasan, martabat, hak-hak manusia yang terpenuhi, dan tanpa ada sedikit pun kelaparan. Rasa cinta itu membulatkan tekad mereka. Meski hanya berbekal senjata dan peralatan seadanya, mereka tetap kukuh untuk memperjuangkan ideologi yang telah mereka anut. Walaupun yang mereka hadapi adalah sekumpulan pasukan tentara dengan senjata-senjata mewah seperti tank dan pesawat terbang, mereka tidak gentar.
Ambisi untuk memenangi perang mengusir setiap ketakutan dan kelelahan yang mendera mereka. Bahkan beberapa gerilyawan rela mati dalam tembakan musuh demi untuk melindungi wilayah yang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Darah-darah dan mayat-mayat yang berserakan di pinggiran sungai, di dalam jurang, di tepian bukit-bukit, adalah saksi betapa mengerikannya pertempuran antar dua kubu ideologi raksasa tersebut.
Namun, ada satu hal yang menghalangi misi sang prajurit yaitu cinta. Cinta seringkali datang di tempat dan pada waktu yang tidak tepat. Barangkali itulah frasa yang pas untuk menggambarkan betapa menyedihkannya percintaan seorang Robert Jordan. Manakala ia harus memofuskan diri untuk menuntaskan tugasnya, ia justru bertemu dengan sosok Maria, seorang gadis berambut pirang asli Spanyol yang telah kehilangan segalanya dalam peperangan; keluarga, keperawanan, dan kehormatan.
Perempuan itu menumbuhkan rasa cinta yang begitu besar dalam benak Robert Jordan. Perempuan itu adalah pelucut sejati kelelahannya. Perempuan itu adalah semesta dalam realitas yang baru dijajakinya. Beratnya hari-hari yang harus dilalui membuat prajurit itu selalu membuatnya membicarakan akan hari-hari indah di masa depan setelah peperangan bersama perempuan yang dikasihinya. Cinta yang terlampau dalam itu benar-benar membuatnya bingung apakah harus menyelesaikan misinya atau kabur bersama perempuan yang sangat dicintainya.
Pada dasarnya, kisah-kisah yang ditulis Hemingway merupakan cerminan dari kehidupan pribadinya. Santiago, Letnan Kolonel Henry, maupun Robert Jordan semuanya merujuk pada satu orang yang sama, Ernest Hemingway. Michael Pearson pernah berkata dalam bukunya, Tempat-tempat Imajiner, bahwa sukar untuk membedakan realitas dan fiksi dalam kisah hidup Hemingway. Ia adalah seorang tentara, pelaut, tukang tinju, pemabuk, pemain cinta, dan pemburu yang tak kenal takut, yang kesemuanya ia abadikan dalam karya-karya miliknya. Itulah mengapa setiap karya-karyanya selalu membekas dalam diri pembacanya.