Tuesday, January 29, 2019

Crime and Punishment, Fyodor Dostoyevsky


Suatu ketika Milan Kundera pernah mendawuh bahwa ketika seseorang menganggap nilai dalam diri mereka sendiri sebagai ukuran tentang suatu kebenaran, maka mereka berubah menjadi seseorang yang menakutkan. Hal ini terpampang dengan jelas dalam novel Kejahatan dan Hukuman karya Fyodor Dostoyevsky.
Raskolnikov merupakan seorang pemuda miskin yang tinggal di Petersburg. Karena ia tidak memiliki cukup biaya, ia harus menanggung derita dikeluarkan dari kampus. Tidak hanya itu, ia juga harus menanggung amarah induk semangnya sebab sudah beberapa bulan berlalu semenjak terakhir kali ia menyerahkan uang kontrakannya.
Karena kemiskinannya itulah terbesit di dalam kepalanya untuk membunuh seorang wanita paruh baya pemilik pegadaian tempat ia sering menggadaikan barang-barangnya. Namun, ia tidak serta merta menunaikannya karena perasaan takut akan dipenjara menghantuinya.
Saat ia tengah dalam keadaan bimbang, ia mendengar orang-orang yang menggibahkan perihal si wanita tua pemilik pegadaian. Mereka mengatakan bahwa wanita patut mati karena ia sering berbuat buruk terhadap orang lain.
Mendengar ucapan tersebut, si pemuda miskin pun merasa tergugah. Ia mulai berpikiran bahwa membunuh wanita itu tidak apa-apa sebab banyak orang yang tidak menyukai kehadirannya. Rasa simpatiknya terhadap orang-orang yang tidak menyukai perempuan tersebut pun akhirnya membuat pemuda itu membulatkan tekadnya untuk menidurkan si wanita pegadaian untuk selama-lamanya.
Dalam novel ini, sekali lagi Dostoyevsky menampakkan keahliannya dalam menyelami sisi terdalam manusia. Semua tokoh dalam buku ini kerap diperas perhatiannya atas setiap keputusan yang telah dan akan mereka ambil dalam hidupnya.
Semua tokoh dalam novel ini berhasil memainkan peran mereka masing-masing terlebih lagi sang tokoh utama, si pemuda miskin Raskolnikov.