Friday, May 12, 2017

The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway


Setelah membaca novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, ada begitu banyak suara yang memekikkan telinga dan yang paling keras gemanya adalah terkait daya juang tentang harga diri. Saya tergugah dengan perjuangan seorang kakek tua bernama Santiago yang rela berjuang mati-matian demi menangkap seekor ikan di lautan untuk mengembalikan harga dirinya yang sudah lama dianggap hilang oleh masyarakat.
Label Salao yang merupakan sebutan paling buruk untuk sebuah ketidakberuntungan tak serta-merta membuat dirinya menyerah lantas berdiam diri di dalam rumah. Berbekal perahu dan alat melaut seadanya, ia mengarungi bengasnya lautan dan memantapkan diri bahwa ia tidak akan kembali jika tidak membawa tangkapan. Tekad yang begitu kuat itu mampu membuatnya bertahan di tengah lautan hingga hari yang kedelapan puluh empat. Selama delapan puluh empat hari itu, Santiago hanya membawa bekal berupa sebotol air. Dalam pengharapannya menunggu seekor ikan yang akan memakan umpannya, berkali-kali ia meyakinkan diri sendiri untuk tetap bersabar meskipun tanpa bekal makanan dan hanya berteman dengan sepinya lautan.
Saya selalu tergelak setiap kali lelaki tua itu berkata untuk diri sendiri-yang seolah-olah sengaja ditulis oleh sang pengarang untuk para pembacanya. Semangat yang ditunjukkan lelaki tua itu seperti membuat para pembaca-khususnya saya sendiri-untuk mengikuti jejaknya yang tak pernah mengenal kata putus asa demi harga diri yang telanjur diinjak-injak. Bahkan ketika umpannya telah dimakan oleh seekor ikan marlin raksasa, kepedihan-kepedihan yang ia hadapi seperti kelaparan, tangan kram, dan teror dari sekawanan hiu, tak membuatnya menyerah lantas melepaskan ikan tersebut. Dengan gigihnya ia berjuang melawan semua kesengsaraan itu hanya demi membuktikan bahwa anggapan banyak orang terhadap dirinya merupakan anggapan yang salah.
Lelaki tua itu mengajarkan kepada kita bahwa sudah seharusnya kita melawan mereka yang menginjak-injak harga diri kita. Meski perlawanan kita mungkin hanya akan berakhir dengan kekalahan, setidaknya kita masih mempunyai gairah untuk melawan. Meski lelaki tua itu pulang dengan tangan hampa, namun perjuangannya dalam mempertahankan hasil tangkapannya dari sekawanan para hiu, patut bagi kita untuk mengapresiasinya. Meski ikan marlin itu tak berhasil ia bawa pulang ke rumah, tetapi perjuangannya melawan hiu-hiu yang hanya bermodalkan sebilah pisau dan barang-barang seadanya di kapal, menyadarkan kepada kita bahwa tekad mampu mengalahkan segala bentuk kekurangan. Bahwa keinginan yang kuat mampu melawan segala bentuk keterbatasan. Saya kira ini berlaku untuk segala aspek kehidupan bukan hanya dalam memperjuangkan harga diri kita.

Sudah semestinya, kita berjuang untuk mengembalikan harkat dan martabat yang diinjak-injak bukan justru berdiam diri dan membiarkan mereka bertindak semena-mena merendahkan diri kita. Apapun itu, begitulah seharusnya bertindak ketika yang berharga dari diri kita disepelekan.