Setelah membaca novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway,
ada begitu banyak suara yang memekikkan telinga dan yang paling keras gemanya
adalah terkait daya juang tentang harga diri. Saya tergugah dengan perjuangan
seorang kakek tua bernama Santiago yang rela berjuang mati-matian demi
menangkap seekor ikan di lautan untuk mengembalikan harga dirinya yang sudah
lama dianggap hilang oleh masyarakat.
Label Salao yang merupakan sebutan paling buruk untuk sebuah
ketidakberuntungan tak serta-merta membuat dirinya menyerah lantas berdiam diri
di dalam rumah. Berbekal perahu dan alat melaut seadanya, ia mengarungi
bengasnya lautan dan memantapkan diri bahwa ia tidak akan kembali jika tidak
membawa tangkapan. Tekad yang begitu kuat itu mampu membuatnya bertahan di
tengah lautan hingga hari yang kedelapan puluh empat. Selama delapan puluh
empat hari itu, Santiago hanya membawa bekal berupa sebotol air. Dalam
pengharapannya menunggu seekor ikan yang akan memakan umpannya, berkali-kali ia
meyakinkan diri sendiri untuk tetap bersabar meskipun tanpa bekal makanan dan
hanya berteman dengan sepinya lautan.
Saya selalu tergelak setiap kali lelaki tua itu berkata untuk diri
sendiri-yang seolah-olah sengaja ditulis oleh sang pengarang untuk para
pembacanya. Semangat yang ditunjukkan lelaki tua itu seperti membuat para
pembaca-khususnya saya sendiri-untuk mengikuti jejaknya yang tak pernah
mengenal kata putus asa demi harga diri yang telanjur diinjak-injak. Bahkan
ketika umpannya telah dimakan oleh seekor ikan marlin raksasa,
kepedihan-kepedihan yang ia hadapi seperti kelaparan, tangan kram, dan teror
dari sekawanan hiu, tak membuatnya menyerah lantas melepaskan ikan tersebut.
Dengan gigihnya ia berjuang melawan semua kesengsaraan itu hanya demi
membuktikan bahwa anggapan banyak orang terhadap dirinya merupakan anggapan
yang salah.
Lelaki tua itu mengajarkan kepada kita bahwa sudah seharusnya kita
melawan mereka yang menginjak-injak harga diri kita. Meski perlawanan kita
mungkin hanya akan berakhir dengan kekalahan, setidaknya kita masih mempunyai
gairah untuk melawan. Meski lelaki tua itu pulang dengan tangan hampa, namun
perjuangannya dalam mempertahankan hasil tangkapannya dari sekawanan para hiu,
patut bagi kita untuk mengapresiasinya. Meski ikan marlin itu tak berhasil ia
bawa pulang ke rumah, tetapi perjuangannya melawan hiu-hiu yang hanya
bermodalkan sebilah pisau dan barang-barang seadanya di kapal, menyadarkan
kepada kita bahwa tekad mampu mengalahkan segala bentuk kekurangan. Bahwa
keinginan yang kuat mampu melawan segala bentuk keterbatasan. Saya kira ini
berlaku untuk segala aspek kehidupan bukan hanya dalam memperjuangkan harga
diri kita.
Sudah semestinya, kita berjuang untuk mengembalikan harkat dan
martabat yang diinjak-injak bukan justru berdiam diri dan membiarkan mereka
bertindak semena-mena merendahkan diri kita. Apapun itu, begitulah seharusnya
bertindak ketika yang berharga dari diri kita disepelekan.
0 komentar:
Post a Comment