Saturday, August 12, 2017

Salju Kilimanjaro, Ernest Hemingway


Kumpulan cerita yang tersaji dalam buku 'Salju Kilimanjaro' karya Ernest Hemingway berhasil memantik rasa penasaran saya dan membuat saya tidak berpaling ke lain buku sebelum benar-benar menuntaskannya. Meski butuh usaha yang cukup keras akhirnya saya berhasil mengkhatamkan semua cerita yang terhimpun di dalam buku ini. Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini banyak memberikan kesan yang mendalam bagi pembacanya, tetapi ada satu hal yang paling membekas di benak saya; betapa kematian tak selalu membawa sebuah petaka. Ada dua cerita yang berhasil memikat saya; Salju Kilimanjaro dan Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat.
Dalam cerita yang menjadi judul buku ini, Henry lebih sering merenungi nasib sialnya karena menginjak sebatang duri ketika berburu di gurun afrika yang membuat kakinya membusuk secara perlahan. Ada banyak penyesalan yang tiba-tiba muncul sebelum maut benar-benar menjemputnya; tentang keputusannya menuruti kemauan istrinya untuk berburu di Padang Afrika, juga perihal impiannya yang tak kunjung terwujud, kecerobohannya yang tidak segera mengobati lukanya ketika itu terjadi, serta dirinya yang lebih memilih hidup dengan seorang wanita kaya daripada harus berjuang mengejar impiannya menjadi seorang penulis.
Selama hari-hari sekarat itu, Henry lebih sering merenung dan sibuk dengan isi kepala yang sudah terlalu riuh dengan berbagai cerita yang harus ia tuliskan. Dalam lamunannya, ia kerap mengutuki dirinya sendiri mengapa dulu ia tidak bersungguh-sungguh memperjuangkan cita-citanya untuk hidup mengandalkan buku dan pensil. Andai ia tidak bertemu dengan wanita yang kini menjadi istrinya, ia pasti sudah menjadi seorang penulis. Seumpama dirinya tidak mengiyakan ajakan istrinya untuk berburu di gurun ini, sudah pasti ia masih bisa berdiri sampai saat ini dan dengan leluasa menikmati bir-bir yang bisa ia beli. Dan berbagai penyesalan lainnya yang seperti serempak menyerbunya ketika keadaannya semakin bertambah sekarat. Dan ketika dirinya sudah terlalu letih dengan berbagai penyesalan yang tak kunjung berhenti menghajarnya, ia menghembuskan napas terakhirnya.
Meski kematian itu membuat sedih sang istri, namun bagi Henry kematian itu merupakan sebuah anugrah. Kematian tersebut bukan hanya menghindarkannya dari rasa sakit yang tak kunjung reda, tapi juga menyelamatkannya dari jeratan rasa tidak enaknya terhadap istrinya yang begitu setia merawatnya. Ketika dirinya sudah tak tahu hal apa lagi yang harus dilakukannya atas rasa bersalah tersebut, kematian datang menyapanya. Dalam hal ini, si penulis telah berhasil membuat para pembacanya memafhumi dirinya mengapa ia membunuh tokoh utama dalam ceritanya.
Cerita selanjutnya yang menjadi favorit saya adalah Kehidupan Bahagia Francis Macomber yang Singkat. Kisah ini menceritakan tentang seorang Francis Macomber yang dikaruniai harta melimpah yang sedang menikmati perburuan di salah satu gurun di Afrika. Lelaki kaya itu menyewa seorang pemburu untuk menemaninya berburu di tempat yang baru ia injak. Petaka dimulai ketika lelaki itu lari kepirit-pirit ketika melihat seekor singa saat sedang berburu. Kelakuan yang memalukan tersebut menjadi bahan olok-olokan istrinya. Meski perbuatannya tergolong memalukan, lelaki itu tetap saja tidak mau diam setiap kali sang istri mengejeknya. Kejengkelannya semakin bertambah ketika istrinya lebih senang mengobrol dengan pemburu yang ia sewa ketimbang dengannya. Keadaan yang demikan runyam itu membuat tekadnya semakin bulat untuk menebus kesalahannya yang membuatnya merasakan malu yang tak tergambarkan.
Kesempatan itu muncul begitu mereka melihat sekawanan banteng ketika mereka memutuskan untuk berburu kembali beberapa hari setelah kejadian memalukan itu. Di hadapan sang istri, Francis Macomber membuang jauh-jauh sifat pengecutnya. Ia begitu percaya diri mampu mengembalikan harga dirinya yang jatuh karena bengasnya seekor singa. Maka tak ayal, lelaki itu segera membidik sekawanan banteng yang melintas tak jauh dari mobil yang ditumpanginya. Ia melesatkan tembakan bahkan ketika dirinya masih di atas mobil. Senyumnya merekah ketika ada seekor banteng yang berhasil tumbang terkena tembakannya. Ketika pemburu sewaannya mengatakan bahwa masih ada seekor banteng yang meski sudah terluka masih dapat kabur dan bersembunyi di sebuah bukit tak jauh dari tempat banteng yang telah mati itu, dengan semangat membara, ia mencari banteng yang terluka tersebut.
Wajah lelaki itu terlihat puas dan bangga karena telah berhasil menunjukkan keberaniannya kepada istrinya. Ketika ia telah melihat banteng yang sudah terluka itu, ia segera membidik ke arah yang sudah disarankan oleh pemburu sewaannya, namun sangat disayangkan bahwa bidikannya meleset hingga akhirnya banteng tersebut menyeruduk lelaki itu dan merenggut nyawanya. Kebahagiaan yang sempat muncul di wajah istrinya telah berganti dengan linangan air mata karena kepergiannya. Betapa singkat kebahagiaan yang disesap seorang Francis Macomber itu.
Dua kisah tersebut menjadi favorit karena berhasil menyadarkan saya bahwa sebuah kematian ternyata tak seburuk sangkaan saya. Anggapan bahwa kematian adalah sesuatu yang buruk tidak dimunculkan di sini. Buku ini justru memberikan sebuah pencerahan bahwa kematian terkadang mampu menyelamatkan seseorang dari berbagai siksa dunia semisal rasa sakit dan rasa malu.

0 komentar:

Post a Comment