Kumpulan cerita yang tersaji dalam buku 'Salju Kilimanjaro' karya
Ernest Hemingway berhasil memantik rasa penasaran saya dan membuat saya tidak
berpaling ke lain buku sebelum benar-benar menuntaskannya. Meski butuh usaha
yang cukup keras akhirnya saya berhasil mengkhatamkan semua cerita yang
terhimpun di dalam buku ini. Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini banyak
memberikan kesan yang mendalam bagi pembacanya, tetapi ada satu hal yang paling
membekas di benak saya; betapa kematian tak selalu membawa sebuah petaka. Ada dua cerita yang berhasil memikat saya; Salju Kilimanjaro dan
Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat.
Dalam cerita yang menjadi judul buku ini, Henry lebih sering
merenungi nasib sialnya karena menginjak sebatang duri ketika berburu di gurun
afrika yang membuat kakinya membusuk secara perlahan. Ada banyak penyesalan
yang tiba-tiba muncul sebelum maut benar-benar menjemputnya; tentang
keputusannya menuruti kemauan istrinya untuk berburu di Padang Afrika, juga
perihal impiannya yang tak kunjung terwujud, kecerobohannya yang tidak segera
mengobati lukanya ketika itu terjadi, serta dirinya yang lebih memilih hidup
dengan seorang wanita kaya daripada harus berjuang mengejar impiannya menjadi seorang
penulis.
Selama hari-hari sekarat itu, Henry lebih sering merenung dan sibuk
dengan isi kepala yang sudah terlalu riuh dengan berbagai cerita yang harus ia
tuliskan. Dalam lamunannya, ia kerap mengutuki dirinya sendiri mengapa dulu ia
tidak bersungguh-sungguh memperjuangkan cita-citanya untuk hidup mengandalkan
buku dan pensil. Andai ia tidak bertemu dengan wanita yang kini menjadi
istrinya, ia pasti sudah menjadi seorang penulis. Seumpama dirinya tidak
mengiyakan ajakan istrinya untuk berburu di gurun ini, sudah pasti ia masih
bisa berdiri sampai saat ini dan dengan leluasa menikmati bir-bir yang bisa ia
beli. Dan berbagai penyesalan lainnya yang seperti serempak menyerbunya ketika
keadaannya semakin bertambah sekarat. Dan ketika dirinya sudah terlalu letih
dengan berbagai penyesalan yang tak kunjung berhenti menghajarnya, ia
menghembuskan napas terakhirnya.
Meski kematian itu membuat sedih sang
istri, namun bagi Henry kematian itu merupakan sebuah anugrah. Kematian
tersebut bukan hanya menghindarkannya dari rasa sakit yang tak kunjung reda,
tapi juga menyelamatkannya dari jeratan rasa tidak enaknya terhadap istrinya
yang begitu setia merawatnya. Ketika dirinya sudah tak tahu hal apa lagi yang
harus dilakukannya atas rasa bersalah tersebut, kematian datang menyapanya.
Dalam hal ini, si penulis telah berhasil membuat para pembacanya memafhumi
dirinya mengapa ia membunuh tokoh utama dalam ceritanya.
Cerita selanjutnya yang menjadi favorit saya adalah Kehidupan Bahagia Francis
Macomber yang Singkat. Kisah ini menceritakan tentang seorang Francis Macomber yang
dikaruniai harta melimpah yang sedang menikmati perburuan di salah satu gurun
di Afrika. Lelaki kaya itu menyewa seorang pemburu untuk menemaninya berburu di
tempat yang baru ia injak. Petaka dimulai ketika lelaki itu lari kepirit-pirit
ketika melihat seekor singa saat sedang berburu. Kelakuan yang memalukan tersebut
menjadi bahan olok-olokan istrinya. Meski perbuatannya tergolong memalukan,
lelaki itu tetap saja tidak mau diam setiap kali sang istri mengejeknya. Kejengkelannya
semakin bertambah ketika istrinya lebih senang mengobrol dengan pemburu yang ia
sewa ketimbang dengannya. Keadaan yang demikan runyam itu membuat tekadnya
semakin bulat untuk menebus kesalahannya yang membuatnya merasakan malu yang
tak tergambarkan.
Kesempatan itu muncul begitu mereka melihat
sekawanan banteng ketika mereka memutuskan untuk berburu kembali beberapa hari
setelah kejadian memalukan itu. Di hadapan sang istri, Francis Macomber
membuang jauh-jauh sifat pengecutnya. Ia begitu percaya diri mampu
mengembalikan harga dirinya yang jatuh karena bengasnya seekor singa. Maka tak
ayal, lelaki itu segera membidik sekawanan banteng yang melintas tak jauh dari
mobil yang ditumpanginya. Ia melesatkan tembakan bahkan ketika dirinya masih di
atas mobil. Senyumnya merekah ketika ada seekor banteng yang berhasil tumbang
terkena tembakannya. Ketika pemburu sewaannya mengatakan bahwa masih ada seekor
banteng yang meski sudah terluka masih dapat kabur dan bersembunyi di sebuah
bukit tak jauh dari tempat banteng yang telah mati itu, dengan semangat
membara, ia mencari banteng yang terluka tersebut.
Wajah lelaki itu terlihat puas dan bangga
karena telah berhasil menunjukkan keberaniannya kepada istrinya. Ketika ia
telah melihat banteng yang sudah terluka itu, ia segera membidik ke arah yang
sudah disarankan oleh pemburu sewaannya, namun sangat disayangkan bahwa
bidikannya meleset hingga akhirnya banteng tersebut menyeruduk lelaki itu dan
merenggut nyawanya. Kebahagiaan yang sempat muncul di wajah istrinya telah
berganti dengan linangan air mata karena kepergiannya. Betapa singkat
kebahagiaan yang disesap seorang Francis Macomber itu.
Dua kisah tersebut menjadi favorit karena
berhasil menyadarkan saya bahwa sebuah kematian ternyata tak seburuk sangkaan
saya. Anggapan bahwa kematian adalah sesuatu yang buruk tidak dimunculkan di
sini. Buku ini justru memberikan sebuah pencerahan bahwa kematian terkadang
mampu menyelamatkan seseorang dari berbagai siksa dunia semisal rasa sakit dan
rasa malu.
0 komentar:
Post a Comment