Hingar-bingar kesibukan manusia tak menjamin bahwa seseorang berhasil
kabur dari sebuah kekosongan. Masing-masing dari kita pasti pernah merasakan
sebuah kekosongan meski berada di tengah hiruk-pikuk keramaian. Perasaan yang
muncul secara tiba-tiba itu sering membuat kita merasa
sebal sendiri lalu mengutuki diri dengan pelbagai jenis umpatan yang kita
kuasai. Kekosongan itu seringkali membuat diri kita sadar bahwa kita hanyalah
makhluk yang sangat rapuh. Manusia adalah makhluk yang menghuni sebuah dimensi
yang bernama kehampaan. Tak ada yang benar-benar terlepas dari jeratan
kehampaan tersebut. Kira-kira begitulah kesan saya setelah menuntaskan sebuah
novel karya salah seorang penulis Amerika, Ernest Hemingway berjudul
Pertempuran Penghabisan (A Farewell to Arms).
Sebagai sebuah novel yang melaporkan jalannya sebuah peperangan,
buku ini secara detail menjelaskan tentang daerah-daerah yang dijelajahi oleh
pasukan Italia kala itu. Kita bisa melihat betapa sang penulis sangat lihai
dalam menggambarkan berbagai latar cerita yang ada di dalam buku ini. Apa yang
membuat kita betah untuk menuntaskan buku ini adalah keberhasilan sang penulis
menuntun para pembacanya dengan sabar untuk tidak langsung sampai ke inti
cerita.
Kita bisa melihat dengan jelas dalam buku ini betapa perang adalah
sebuah musibah terburuk untuk umat manusia. Sebuah kedamaian nyatanya sangat
langka ketika perang sedang berkecamuk. Kalaulah ada mungkin hanya segelintir
orang yang mengecapnya. Kita bisa melihat gambaran tentang betapa mengerikannya
sebuah peperangan bila diceritakan oleh seseorang yang turut serta dalam
peperangan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Letnan Frederich Henry-seorang
pengemudi ambulans berkebangsaan Amerika- tokoh utama dalam novel ini. Sebagai
seorang supir ambulans yang bekerja untuk tentara Italia, hari-harinya banyak
dihabiskan di medan pertempuran untuk mengangkut para prajurit yang terluka.
Satu hal yang jelas adalah bahwa setiap orang memimpikan datangnya hari
di mana dunia dipenuhi oleh sebuah kedamaian tanpa adanya pertumpahan darah.
Setidaknya begitulah impian setiap tokoh dalam buku ini. Kita bisa menemukan
impian tersebut dalam obrolan-obrolan di meja-meja makan, di dalam kemudi
sebuah ambulans, bahkan di medan pertempuran. Setiap tokoh sibuk memikirkan
tentang kapan berakhirnya peperangan yang mereka jalani. Yang menyedihkan
adalah peperangan tersebut rupanya tidak pernah berakhir. Hingga membuat Letnan
Henry lebih memilih untuk melarikan diri ketimbang melibatkan dirinya kembali
ke medan pertempuran setelah kakinya pulih dari ledakan bom yang menghancurkan
kaki kanannya. Ia lebih memilih menjadi buronan demi bisa hidup dengan kekasih
yang sangat dicintainya, Catherine Barkley.
Selalu ada harga dari sebuah dosa yang kita buat. Begitu pula yang
terjadi kepada Letnan Henry. Kabur dari peperangan adalah sebuah dosa besar
ketika perang sedang berkecamuk. Kegelisahan selalu membuntuti ke manapun
dirinya melangkah. Rasa takut tertangkap menemani hari-hari Letnan Henry ketika
ia harus melewati beberapa daerah guna menemukan istri yang sangat dicintainya.
Ketika menemukannya, Letnan Henry segera kabur bersama istrinya yang tengah
mengandung buah percintaannya ke daerah perbatasan. Dalam pelarian tersebut,
kita bisa menyaksikan betapa cinta mampu menguatkan tekad seseorang. Sang
Letnan rela mengayuh perahu yang ia tumpangi bersama istrinya ke daerah perbatasan
berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari hotel tempat mereka bersembunyi dari
kejaran tentara yang mengejar mereka. Keletihan yang merayapi sekujur tubuhnya
tertutupi oleh rasa cinta kepada perempuan yang duduk di hadapannya. Berbekal
cinta pulalah mereka akhirnya sampai di negara yang mereka tuju.
Ketika kebahagiaan tengah mengelilingi Letnan Henry bersama
istrinya karena berhasil kabur dan hidup dengan damai di negeri yang belum
mereka jamah sebelumnya mimpi buruk itupun datang. Dunia yang diimpikan Letnan
Henry runtuh seketika. Ia tak kuasa menampik segenap kenyataan yang malang
melintang di hadapannya. Kenyataan itu menghapus setiap senyum, sikap optimis,
dan kebahagiaan hidupnya seolah-olah dunia memang sebuah tempat yang sangat
kejam.
Di dua buku karya Ernest Hemingway yang say abaca sebelumnya,
Lelaki Tua dan Laut serta Salju Kilimanjaro, saya bisa menerima nasib para
tokoh dalam dua buku tersebut meski berakhir tidak bahagia. Tetapi dalam buku
ini, sulit untuk memaklumi nasib akhir Letnan Henry. Saya tiba-tiba merasakan
kekosongan setelah menuntaskan buku ini meski saya sedang berada di tengah
hiruk pikuk paling sibuk sekalipun. Tetapi yang membuat saya sadar adalah bahwa
kesedihan dan kepedihan adalah rasa yang menyelimuti kehidupan manusia. Tak
perlu risau ketika kita dihadapkan pada kekosongan dan kehampaan karena dengan
begitu kita ini masih manusia seutuhnya. Izinkan saya menukil kutipan yang
paling saya suka, “Dunia menghancurkan setiap orang dan sesudahnya banyak orang
menjadi kuat di tempat-tempat mereka yang hancur,”
0 komentar:
Post a Comment