Saturday, August 19, 2017

A Farewell To Arms, Ernest Hemingway

Hingar-bingar kesibukan manusia tak menjamin bahwa seseorang berhasil kabur dari sebuah kekosongan. Masing-masing dari kita pasti pernah merasakan sebuah kekosongan meski berada di tengah hiruk-pikuk keramaian. Perasaan yang muncul secara tiba-tiba itu sering membuat kita merasa sebal sendiri lalu mengutuki diri dengan pelbagai jenis umpatan yang kita kuasai. Kekosongan itu seringkali membuat diri kita sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang sangat rapuh. Manusia adalah makhluk yang menghuni sebuah dimensi yang bernama kehampaan. Tak ada yang benar-benar terlepas dari jeratan kehampaan tersebut. Kira-kira begitulah kesan saya setelah menuntaskan sebuah novel karya salah seorang penulis Amerika, Ernest Hemingway berjudul Pertempuran Penghabisan (A Farewell to Arms).
Sebagai sebuah novel yang melaporkan jalannya sebuah peperangan, buku ini secara detail menjelaskan tentang daerah-daerah yang dijelajahi oleh pasukan Italia kala itu. Kita bisa melihat betapa sang penulis sangat lihai dalam menggambarkan berbagai latar cerita yang ada di dalam buku ini. Apa yang membuat kita betah untuk menuntaskan buku ini adalah keberhasilan sang penulis menuntun para pembacanya dengan sabar untuk tidak langsung sampai ke inti cerita.
Kita bisa melihat dengan jelas dalam buku ini betapa perang adalah sebuah musibah terburuk untuk umat manusia. Sebuah kedamaian nyatanya sangat langka ketika perang sedang berkecamuk. Kalaulah ada mungkin hanya segelintir orang yang mengecapnya. Kita bisa melihat gambaran tentang betapa mengerikannya sebuah peperangan bila diceritakan oleh seseorang yang turut serta dalam peperangan tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Letnan Frederich Henry-seorang pengemudi ambulans berkebangsaan Amerika- tokoh utama dalam novel ini. Sebagai seorang supir ambulans yang bekerja untuk tentara Italia, hari-harinya banyak dihabiskan di medan pertempuran untuk mengangkut para prajurit yang terluka.
Satu hal yang jelas adalah bahwa setiap orang memimpikan datangnya hari di mana dunia dipenuhi oleh sebuah kedamaian tanpa adanya pertumpahan darah. Setidaknya begitulah impian setiap tokoh dalam buku ini. Kita bisa menemukan impian tersebut dalam obrolan-obrolan di meja-meja makan, di dalam kemudi sebuah ambulans, bahkan di medan pertempuran. Setiap tokoh sibuk memikirkan tentang kapan berakhirnya peperangan yang mereka jalani. Yang menyedihkan adalah peperangan tersebut rupanya tidak pernah berakhir. Hingga membuat Letnan Henry lebih memilih untuk melarikan diri ketimbang melibatkan dirinya kembali ke medan pertempuran setelah kakinya pulih dari ledakan bom yang menghancurkan kaki kanannya. Ia lebih memilih menjadi buronan demi bisa hidup dengan kekasih yang sangat dicintainya, Catherine Barkley.
Selalu ada harga dari sebuah dosa yang kita buat. Begitu pula yang terjadi kepada Letnan Henry. Kabur dari peperangan adalah sebuah dosa besar ketika perang sedang berkecamuk. Kegelisahan selalu membuntuti ke manapun dirinya melangkah. Rasa takut tertangkap menemani hari-hari Letnan Henry ketika ia harus melewati beberapa daerah guna menemukan istri yang sangat dicintainya. Ketika menemukannya, Letnan Henry segera kabur bersama istrinya yang tengah mengandung buah percintaannya ke daerah perbatasan. Dalam pelarian tersebut, kita bisa menyaksikan betapa cinta mampu menguatkan tekad seseorang. Sang Letnan rela mengayuh perahu yang ia tumpangi bersama istrinya ke daerah perbatasan berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari hotel tempat mereka bersembunyi dari kejaran tentara yang mengejar mereka. Keletihan yang merayapi sekujur tubuhnya tertutupi oleh rasa cinta kepada perempuan yang duduk di hadapannya. Berbekal cinta pulalah mereka akhirnya sampai di negara yang mereka tuju.
Ketika kebahagiaan tengah mengelilingi Letnan Henry bersama istrinya karena berhasil kabur dan hidup dengan damai di negeri yang belum mereka jamah sebelumnya mimpi buruk itupun datang. Dunia yang diimpikan Letnan Henry runtuh seketika. Ia tak kuasa menampik segenap kenyataan yang malang melintang di hadapannya. Kenyataan itu menghapus setiap senyum, sikap optimis, dan kebahagiaan hidupnya seolah-olah dunia memang sebuah tempat yang sangat kejam.
Di dua buku karya Ernest Hemingway yang say abaca sebelumnya, Lelaki Tua dan Laut serta Salju Kilimanjaro, saya bisa menerima nasib para tokoh dalam dua buku tersebut meski berakhir tidak bahagia. Tetapi dalam buku ini, sulit untuk memaklumi nasib akhir Letnan Henry. Saya tiba-tiba merasakan kekosongan setelah menuntaskan buku ini meski saya sedang berada di tengah hiruk pikuk paling sibuk sekalipun. Tetapi yang membuat saya sadar adalah bahwa kesedihan dan kepedihan adalah rasa yang menyelimuti kehidupan manusia. Tak perlu risau ketika kita dihadapkan pada kekosongan dan kehampaan karena dengan begitu kita ini masih manusia seutuhnya. Izinkan saya menukil kutipan yang paling saya suka, “Dunia menghancurkan setiap orang dan sesudahnya banyak orang menjadi kuat di tempat-tempat mereka yang hancur,”


0 komentar:

Post a Comment