Kalaulah ada seseorang yang bertanya perihal
tipikal sahabat yang saya inginkan di dalam hidup, saya tidak akan ragu menjawab
bahwa tipe sahabat yang setialah saya butuhkan. Sahabat yang setia adalah, yang
dengan senang hati mendukung setiap keputusan yang saya tentukan, yang dengan
sukarela mau mengikuti ke manapun saya melangkah, yang tidak mudah berpaling ke
manusia lain jika ada suatu hal buruk yang menimpa saya, yang meskipun tingkah
saya menyebalkan, ia masih tetap mau berdiri dan berjalan di dekat saya, yang
dengan senang hati membantu ketika saya susah, yang selalu memihak saya, apapun
yang terjadi. Apakah ada tipikal seseorang yang seperti itu? Ada. Namun, saya
tidak akan menyebutkan namanya di sini karena kalian tidak akan mengenalnya. Saya
lebih memilih nama yang lebih terkenal, yakni Si Tokek. Kesetiaan Si Tokek
kepada Ajo Kawir, dalam buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas,
sedikit banyak menggambarkan bagaimana kisah persahabatan saya dengan teman
saya. Kesetiaan Si Tokek yang tidak menikah karena rasa bersalahnya kepada
sahabatnya, Ajo Kawir, yang membuat kemaluan sahabatnya itu tidak bisa berdiri,
memantik keinginan saya untuk menceritakan betapa setianya sahabat-sahabat
saya.
Beberapa
bulan setelah saya resmi menginjakkan kaki di Jakarta, saya terserang Demam Berdarah. Ketakutan saya yang pertama
adalah terkait mahalnya biaya rumah sakit di Ibukota. Saya anak kemaren sore di
Jakarta, tabungan saya juga tidak mencukupi untuk membayar biaya menginap. Namun,
sahabat-sahabat saya berkali-kali meyakinkan saya untuk tidak perlu khawatir
terkait biaya rumah sakit. Saya begitu terharu mendengar kata-kata itu. Setelah
delapan hari di rumah sakit, saya akhirnya sembuh kembali. Kebahagiaan yang
pertama adalah, akhirnya saya bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Kebahagiaan
yang kedua adalah saya mengetahui bahwa sahabat-sahabat saya, yang tahun ini
sudah bersama-sama selama sepuluh tahun, selalu ada menemani saya di rumah
sakit. Tidak hanya menemani, mereka juga mencarikan saya bantuan biaya hingga
saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya berobat dan menginap. Saya bersyukur
memiliki orang-orang seperti mereka di samping saya.
Kenyamanan
saya hidup di Jakarta tidak lain karena kehadiran mereka. Begitu pula untuk
tahun-tahun sebelumnya, saya betah berlama-lama di kampung orang karena
kehadiran orang-orang yang dengan senang hati membagi kesedihan dan kebahagiaan
mereka dengan saya. tidak terbayangkan bagaimana jika orang-orang hebat itu
tidak pernah singgah dalam hidup. Saya bersyukur karena tipikal teman yang saya
inginkan telah hadir dalam hidup saya.
0 komentar:
Post a Comment