Thursday, January 11, 2018

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, Eka Kurniawan

Saya tak tahu bagaimana dengan yang lain, tapi memiliki seorang atau banyak sahabat adalah sebuah keharusan yang tidak bisa saya tawar. Saya tak bisa membayangkan bagaimana diri saya jadinya tanpa kehadiran sahabat. Ke mana saya harus berbagi kesedihan maupun kebahagiaan jika tidak kepada sahabat. Untuk seorang yang sudah terbiasa jauh dari jangkauan orang tua, memiliki sahabat di tempat perantauan merupakan sebuah keniscayaan. Pastinya ada berbagai rasa yang kita dapatkan setiap harinya, entah itu suka maupun duka, dan jika perasaan tersebut tidak diungkapkan, seperti ada yang mengganjal di dalam hati. Setidaknya begitulah yang saya rasakan.
 Kalaulah ada seseorang yang bertanya perihal tipikal sahabat yang saya inginkan di dalam hidup, saya tidak akan ragu menjawab bahwa tipe sahabat yang setialah saya butuhkan. Sahabat yang setia adalah, yang dengan senang hati mendukung setiap keputusan yang saya tentukan, yang dengan sukarela mau mengikuti ke manapun saya melangkah, yang tidak mudah berpaling ke manusia lain jika ada suatu hal buruk yang menimpa saya, yang meskipun tingkah saya menyebalkan, ia masih tetap mau berdiri dan berjalan di dekat saya, yang dengan senang hati membantu ketika saya susah, yang selalu memihak saya, apapun yang terjadi. Apakah ada tipikal seseorang yang seperti itu? Ada. Namun, saya tidak akan menyebutkan namanya di sini karena kalian tidak akan mengenalnya. Saya lebih memilih nama yang lebih terkenal, yakni Si Tokek. Kesetiaan Si Tokek kepada Ajo Kawir, dalam buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sedikit banyak menggambarkan bagaimana kisah persahabatan saya dengan teman saya. Kesetiaan Si Tokek yang tidak menikah karena rasa bersalahnya kepada sahabatnya, Ajo Kawir, yang membuat kemaluan sahabatnya itu tidak bisa berdiri, memantik keinginan saya untuk menceritakan betapa setianya sahabat-sahabat saya.
Beberapa bulan setelah saya resmi menginjakkan kaki di Jakarta, saya terserang  Demam Berdarah. Ketakutan saya yang pertama adalah terkait mahalnya biaya rumah sakit di Ibukota. Saya anak kemaren sore di Jakarta, tabungan saya juga tidak mencukupi untuk membayar biaya menginap. Namun, sahabat-sahabat saya berkali-kali meyakinkan saya untuk tidak perlu khawatir terkait biaya rumah sakit. Saya begitu terharu mendengar kata-kata itu. Setelah delapan hari di rumah sakit, saya akhirnya sembuh kembali. Kebahagiaan yang pertama adalah, akhirnya saya bisa beraktivitas kembali seperti biasa. Kebahagiaan yang kedua adalah saya mengetahui bahwa sahabat-sahabat saya, yang tahun ini sudah bersama-sama selama sepuluh tahun, selalu ada menemani saya di rumah sakit. Tidak hanya menemani, mereka juga mencarikan saya bantuan biaya hingga saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya berobat dan menginap. Saya bersyukur memiliki orang-orang seperti mereka di samping saya.
Kenyamanan saya hidup di Jakarta tidak lain karena kehadiran mereka. Begitu pula untuk tahun-tahun sebelumnya, saya betah berlama-lama di kampung orang karena kehadiran orang-orang yang dengan senang hati membagi kesedihan dan kebahagiaan mereka dengan saya. tidak terbayangkan bagaimana jika orang-orang hebat itu tidak pernah singgah dalam hidup. Saya bersyukur karena tipikal teman yang saya inginkan telah hadir dalam hidup saya.


0 komentar:

Post a Comment