Ada
begitu banyak alasan mengapa seorang penulis mengarang sebuah karya. Sebagian
orang meluapkan kepedihan-kepedihan mereka ke dalam sebuah tulisan. Tulisan-tulisan
mereka umumnya menyiratkan kegelapan dan penuh kemurungan. Ernest Hemingway, F.
S. Fitzgerald, dan Kafka masuk ke dalam kelompok ini. Sebagian yang lain,
menulis dengan niatan untuk menghibur orang lain melalui kata-kata yang
mengundang gelak tawa sehingga para pembacanya merasa terhibur ketika membaca
lawakannya. Saya rasa Kurt Vonnegut dan Etgar Keret masuk ke dalam golongan
ini. Sementara sebagian lainnya, menulis karena ingin mengusir
kegelisahan-kegelisahannya atas pelbagai pertanyaan-pertanyaan yang muncul di
kepalanya mengenai realitas tempat di mana seseorang itu berpijak. Tolstoy,
Dostoyevsky, dan Italo Calvino masuk ke dalam golongan yang ketiga ini. Setidaknya
begitulah menurut saya. Ini murni sebuah subjektivitas.
Semua
penulis memang memiliki unsur-unsur kemurungan, kelucuan, dan kegelisahan atas
fenomena yang terjadi di sekitar dalam setiap karya-karya mereka, tapi selalu
ada satu macam pandangan yang melekat dalam diri seorang penulis ketika kita
menyebutkan nama-nama penulis di dunia yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Mengapa
saya memasukkan nama Italo Calvino sebagai penulis yang masuk ke dalam golongan
ketiga dan bukan sebagai penulis dengan selera humor yang tinggi? Saya rasa
buku Tahun-tahun Cahaya dan Kisah Cosmicomis lainnya sedikit banyak menjawab
pertanyaan tersebut. Dalam buku tersebut, Italo Calvino mencoba bermain-main
dengan kegelisahannya mengenai realitas, semesta, serta sifat-sifat manusia. Dalam
kata pengantar dari pihak penerjemah, cerita-cerita di dalam buku itu adalah
sebuah respon dari sang penulis berkebangsaan Italia itu atas persaingan sengit
yang melibatkan dua negera adidaya dunia kala itu; Uni Soviet dan Amerika
Serikat.
Antara
tahun 1957 – 1969 dua negara yang memprakarsai perang dingin itu saling
bersaing untuk menunjukkan kepada dunia siapa yang paling kuat di antara
mereka. Dan yang paling kentara adalah dalam perlombaan ruang angkasa. Perlombaan
ruang angkasa melibatkan upaya perintis untuk meluncurkan satelit buatan, sub-orbital,
penerbangan dengan awak keluar orbit bumi, hingga perjalanan ke bulan. Keberhasilan
Uni Soviet meluncurkan satelit Sputnik 1 buatan Uni Soviet pada tanggal 4 Oktober 1957 membuat Amerika
berang. Salah satu upaya Amerika untuk mengungguli musuhnya adalah dibentuknya
lembaga penelitian luar angkasa yang kini kita kenal sebagai NASA. Upaya tersebut
membuahkan hasil. Amerika berhasil mendaratkan komandan Neil Armstrong sebagai
manusia pertama yang berhasil menjajakkan kakinya di bulan sekaligus
mengukuhkan Amerika sebagai negara terkuat di dunia.
Jika kita membaca kisah-kisah dalam buku ini, kita akan
mendapati bahwa cerita-cerita yang ada di dalam buku berkaitan erat dengan
ruang angkasa dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti bulan, cahaya,
dan makhluk pertama yang menghuni bumi. Dalam kisah Jarak Bulan misalnya,
dikisahkan bahwa jarak antara bumi dengan bulan hanya beberapa jengkal saja
sehingga para makhluk dengan leluasa bisa memanjat bulan sesuka hati mereka. Atau
dalam cerita yang menjadi judul buku ini, Italo mencoba bermain-main dengan
ruang dan waktu, di mana tulisan yang terlihat di bumi baru bisa terlihat di
angkasa seratus tahun setelahnya. Atau kisah tentang Dinosaurus yang telah
punah beribu-ribu tahun lamanya, tapi masih menyisakan satu keturunan asli
mereka yang harus hidup di sebuah zaman yang sudah sepenuhnya berubah.
Buku ini memang tergolong ke dalam karya Italo Calvino dengan
pembahasan yang cukup serius. Buku ini tidak bisa dihabiskan hanya dalam sekali
baca. Meski demikian, bukan Italo Calvino namanya jika ia tidak mampu menyisipkan
humor-humor khas miliknya. Kelihaiannya menggali sisi terdalam manusia juga
menjadi alasan mengapa karya-karyanya patut dibaca. Saya rasa, sang maestro
benar-benar membuat tanggapan yang sangat elegan atas peristiwa yang terjadi di
zamannya.
0 komentar:
Post a Comment