Saturday, June 16, 2018

Ruang Inap No. 6, Anton Chekov


Dalam buku ini Anton Chekov berbicara banyak ikhwal kehidupan Rusia pada abad ke-18. Topik-topik yang dibahasnya berkutat seputar masalah keilmuan, kebiasaan dan adat masyarakat rusia, serta modernitas yang mulai merambah rusia. Buku ini ditulis Chekov pada puncak karir kepenulisannya sehingga buku ini terlihat lebih serius daripada karya-karya Chekov sebelumnya.
Cerita pertama yang juga menjadi judul buku ini, berbicara panjang lebar mengenai masalah keilmuan di Rusia pada abad ke-18. Ia menyuarakan keprihatinannya melalui tokoh utama dalam buku, Dokter Andrei Yefimich Ragin, yang karena kepintarannya dimasukkan ke dalam bangsal rumah sakit jiwa. Yang menarik adalah bahwa semasa ia masih dianggap waras, ia tidak menemukan seorang pun yang mampu untuk diajak bertukar pikiran. Dirinya begitu frustasi ketika orang-orang di sekitarnya lebih memilih untuk mabuk-mabukan atau bermain kartu ketika kumpul bersama ketimbang membicarakan suatu ilmu pengetahuan.
Rasa frustasi itu membuat dirinya mengambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan telah mati. Ia memimpikan sebuah zaman di mana ilmu pengetahuan masih sering diperbincangkan. Namun, rasa frustasi itu mulai tersembuhkan ketika dirinya bertemu dengan Ivan Dmitrich Yang merupakan seorang pasien di ruang inap no. 6. Setelah pertemuan dengannya, hampir setiap hari dokter mengunjungi bangsal tersebut. Alasannya sederhana bahwa Ivan Dmitrichlah satu-satunya orang yang mampu membuat dirinya bertanya-tanya tentang realitas dan bagaimana dunia ini berjalan. Kebiasaannya tersebut akhirnya tercium oleh dokter Khobotov Hingga akhirnya sang dokter muda tersebut mengirim dokter ke bangsal itu karena dianggap bahwa dirinya turut menjadi gila. Kadang, ketika kita tidak ingin mengikuti bagaimana pola kehidupan masyarakat pada umumnya, pada saat itu pula kita dianggap gila meski apa yang kita lakukan adalah hal benar. Kita dianggap gila ketika kita berbelok dari corak kehidupan masyarakat pada umumnya.
Nikolai Stepanovich adalah seorang dosen kedokteran di salah satu universitas di Petersbugh. Adagium "Semakin tua seseorang, semakin banyak hal-hal yang ingin dikomentarinya" menjadi benar adanya. Usia senja rupanya mampu membuat sang profesor menjadi lebih cerewet. Ia mulai mengomentari keputusan putri mendiang sahabatnya yang sangat ingin menjadi seorang aktris, mempertanyakan keputusan istrinya yang hendak menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang latar pendidikan dan nasab keluarganya tidak jelas, serta mengeluhkan kebiasaan istrinya yang selalu memaksanya untuk meminum berbagai macam pil dengan dalih untuk kesehatannya. Ia yang biasanya memaklumi pilihan orang lain, percaya dengan semua keputusan istrinya tiba-tiba berubah drastis hanya karena satu faktor, usia. Komentar tersebut bukan hanya dalam ruang lingkup keluarga saja melainkan juga dalam bidang profesi yang digelutinya.
Pada pertemuan terakhir, ia berbicara panjang lebar di hadapan murid-muridnya. Ia mengeluhkan tentang jenis-jenis mahasiswanya yang sekarang, yang sangat jauh berbeda dengan tipikal mahasiswa pada zamannya. Meski demikian, ia tetap bangga menjadi dosen mereka. Ia pun menyayangkan bahwa ia harus pensiun dari profesi yang sudah digelutinya beberapa puluh tahun terakhir ini. Hatinya merasa terkoyak-koyak karena ke depannya ia tidak akan lagi berdiri di podium di dalam kelas, tidak lagi menghadapi mahasiswa yang berkonsultasi perihal perkuliahan, dan lain sebagainya. Ia begitu pilu dengan kenyataan pahit yang akan dihadapinya.
Kelihaian Chekov dalam mengolah sebuah cerita pendek tampak dalam cerita berjudul: Wanita dengan Anjing. Ketika Dmitrii Dmitrich Gurov sudah menghabiskan dua minggu di Yalta ia melihat wajah baru di kota itu. Wanita tersebut biasa berjalan mengelilingi kota dengan seekor anjing. Rasa penasaran akan wanita itu membuat Dmitrii Dmitrich Gurov berani untuk mendekatinya. Secara sepintas mungkin kita akan menyangka bahwa kisah cinta antara laki-laki yang bersuami dan perempuan beristri tersebut akan berakhir beserta dengan selesainya liburan mereka. Namun, tidak demikian dengan cerita ini. Bahkan cerita ini berlanjut hingga beberapa tahun setelahnya. Ketika si lelaki mulai jenuh dengan istrinya dan sang perempuan merasa tidak bahagia dengan pernikahannya. Dengan keahliannya, Chekov membuat cerita bertema sederhana menjadi sebuah kisah yang luar biasa.
 Pengalaman Chekov sebagai seorang jurnalis serta penulis majalah komedi membuat tulisan-tulisannya memiliki gaya dan ciri khas tersendiri. Cerita-cerita di dalam buku ini membuktikannya. Banyak orang yang mengagumi dan memuja karya-karyanya, tapi tidak ada yang benar-benar bisa menirunya. Kebesaran Chekov sebagai seorang ahli penulis cerita pendek memang pantas untuk dipuja.

Saturday, June 9, 2018

Pedro Paramo, Juan Rulfo


Rulfo pernah berkata: "Dalam hidupku ada banyak keheningan, begitu juga dalam tulisanku." Persis seperti itulah karya ini dituliskan oleh seorang penulis yang hanya membutuhkan dua karya untuk menasbihkan dirinya sebagai salah satu penulis berpengaruh dalam kancah sastra dunia khususnya Amerika Latin.
Juan Preciado beranjak ke Comala demi menepati janji kepada mendiang ibunya bahwa ia akan mencari ayahnya, Pedro Paramo. Namun, ternyata kota itu telah lama ditinggalkan dan hanya menyisakan satu atau dua orang penghuninya yang masih tersisa. Berdasarkan petunjuk orang-orang yang masih tersisa itulah, Juan Preciado mulai mencari jejak ayahnya. Selama masa pencarian, Juan Preciado banyak mendengar suara-suara, gumaman-gumaman, dan bisikan-bisikan dari sesuatu yang tak berwujud. Ia mendengar berbagai kisah-kisah yang mencekam dari suara-suara yang berasal dari balik dinding, atap rumah yang rubuh, maupun batu jalan. Semua suara-suara itu berkumpul menjadi satu hingga membuat kota itu terbungkus oleh gema yang menyuarakan begitu banyak kepedihan, kesengsaraan, dan cobaan hidup yang terlalu memusingkan.
Paragraf pembuka seperti menyiratkan bahwa buku ini adalah sebuah novel perjalanan seorang anak yang mencoba mencari letak keberadaan ayahnya, tapi ketika kita menyelaminya lebih dalam, novel ini nyatanya lebih jauh dari itu. Juan Preciado tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya akan dipenuhi dengan suara-suara kekecewaan dan isak tangis kehidupan hingga menggiringnya kepada suatu keheningan yang memaksanya untuk tetap setia mendengar semua kisah-kisah yang masuk ke telinganya.
Buku ini adalah buku beraliran realis-magis pertama yang saya baca. Mulanya saya mengira bahwa ini adalah sebuah novel mistis ketika menyadari bahwa seseorang yang berbicara dengan Juan Preciado di rumah tempatnya menginap adalah arwah yang gentayangan. Ketika menyelaminya lebih dalam lagi, saya semakin takjub kepada sang penulis karena berhasil menggabungkan antara yang nyata dan yang tak kasat mata menjadi sebuah karya yang puitis, jernih, dan mengagumkan.
Pada akhirnya, Pedro Paramo adalah sebuah novel yang mampu memberikan kesan yang sangat mendalam bagi para pembacanya. Bahkan Marquez pun mengagumi buku ini. Ia mengaku bahwa ia mampu menuturkan kalimat-kalimat panjang berdasarkan ingatan dan hafal seluruh buku. Sebuah masterpiece yang patut dibaca.

Monday, June 4, 2018

The Trial, Franz Kafka


Bagi Franz Kafka, mungkin kehidupan tak lebih dari sebuah kesengsaraan. Setidaknya begitulah kesan yang ditinggalkan buku ini. Josef K, seorang kepala kepegawaian di salah satu bank, harus menjalani sebuah proses pengadilan atas sebuah kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Ketika terbangun, di dalam apartemennya, beberapa orang yang mengaku sebagai pegawai pemerintahan menahannya dengan dalih bahwa ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Namun, ketika K menanyai para pegawai perihal kesalahannya, mereka hanya diam dan mengatakan bahwa atasannyalah yang mengetahui perihal kesalahannya. Mereka mengaku hanya menuruti perintah atasan untuk menginterogasinya.

Setelah pagi yang mengerikan itu, hari-hari K berjalan dengan suram. Ia yang seharusnya menjalani hari-hari penuh dengan kenyamanan karena posisinya yang tinggi di kantor, justru menghabiskan hari-hari dengan penuh ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Perhatiannya tertumpah seluruhnya pada sebuah proses yang harus dijalaninya. Tiada hari yang ia lalui tanpa memikirkan proses itu.
Keinginan agar kasusnya segera selesai mempertemukannya dengan pengacara Huld. Namun, pengacara itu pada akhirnya tidak banyak membantu. Pun sama halnya dengan seorang pelukis yang mengaku sering melukis para pejabat di pengadilan. Dari sang pelukis, ia hanya mengetahui jenis-jenis pembebasan yang dikeluarkan oleh pengadilan untuk sebuah kasus yang mirip dengan kasus K; pembebasan penuh, pembebasan semu, dan penundaan.
Setiap orang baru yang K temui selalu berkaitan dengan pengadilan. Leni si pembantu pengacara Huld, Pengusaha Block, Pelukis Titorelli beserta anak-anak yang muncul di apartemennya, bahkan Bapa Pendeta di Katedral juga berurusan dengan pengadilan. Semua orang yang berada di sisinya seolah-olah orang-orang yang berkaitan dengan pengadilan. Seakan-akan tingkah lakunya dan apapun yang ia perbuat selalu diawasi pihak pengadilan.
Hingga pada akhirnya, ia berubah menjadi seorang penakut dan penuh dengan kekhawatiran karena sekali saja ia melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan benar-benar menjadi seorang tersangka. Semenjak proses yang pertama, apa yang hadir dalam benak K hanyalah sikap curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Betapa menyedihkan dan mengerikannya kehidupan yang harus K jalani, yang tidak terlalu mengerti siapa sebenarnya pihak yang harus ia hadapi.
Hal lainnya yang ingin Kafka sampaikan adalah bahwa kebebasan adalah kenikmatan tertinggi yang tidak dapat ditandingi kemewahannya. Seperti kata Bapa Pendeta di Katedral yang mengaku sebagai Pendeta Pengadilan. Ia mengisahkan dua orang dengan kedudukan yang berbeda; orang desa dan penjaga pintu pengadilan. Ia berkata, "Bagaimanapun, orang yang bebas kedudukannya lebih tinggi daripada orang terikat melakukan pelayanan. Orang desa itu benar-benar bebas, dia bisa pergi ke mana pun yang dia inginkan sementara si penjaga pintu hanya melayani satu orang yang telah ditetapkan untuknya."
Kebebasan dan kerumitan hidup menjadi sorotan utama Kafka dalam novel ini. Bahwa dalam dunia Kafka, kerumitan dan keruwetan hidup mengambil posisi di hampir semua lini kehidupan. Selama kita masih hidup di dunia, kita tidak akan pernah benar-benar bisa merakan kebebasan dan kemudahan. Itulah mengapa hidup menjadi seperti sebuah kesalahan di mata Kafka.