Dalam
buku ini Anton Chekov berbicara banyak ikhwal kehidupan Rusia pada abad ke-18.
Topik-topik yang dibahasnya berkutat seputar masalah keilmuan, kebiasaan dan
adat masyarakat rusia, serta modernitas yang mulai merambah rusia. Buku ini ditulis
Chekov pada puncak karir kepenulisannya sehingga buku ini terlihat lebih serius
daripada karya-karya Chekov sebelumnya.
Cerita
pertama yang juga menjadi judul buku ini, berbicara panjang lebar mengenai
masalah keilmuan di Rusia pada abad ke-18. Ia menyuarakan keprihatinannya melalui
tokoh utama dalam buku, Dokter Andrei Yefimich Ragin, yang karena kepintarannya
dimasukkan ke dalam bangsal rumah sakit jiwa. Yang menarik adalah bahwa semasa
ia masih dianggap waras, ia tidak menemukan seorang pun yang mampu untuk diajak
bertukar pikiran. Dirinya begitu frustasi ketika orang-orang di sekitarnya
lebih memilih untuk mabuk-mabukan atau bermain kartu ketika kumpul bersama
ketimbang membicarakan suatu ilmu pengetahuan.
Rasa
frustasi itu membuat dirinya mengambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan telah
mati. Ia memimpikan sebuah zaman di mana ilmu pengetahuan masih sering
diperbincangkan. Namun, rasa frustasi itu mulai tersembuhkan ketika dirinya
bertemu dengan Ivan Dmitrich Yang merupakan seorang pasien di ruang inap no. 6.
Setelah pertemuan dengannya, hampir setiap hari dokter mengunjungi bangsal tersebut.
Alasannya sederhana bahwa Ivan Dmitrichlah satu-satunya orang yang mampu
membuat dirinya bertanya-tanya tentang realitas dan bagaimana dunia ini
berjalan. Kebiasaannya tersebut akhirnya tercium oleh dokter Khobotov Hingga
akhirnya sang dokter muda tersebut mengirim dokter ke bangsal itu karena
dianggap bahwa dirinya turut menjadi gila. Kadang, ketika kita tidak ingin
mengikuti bagaimana pola kehidupan masyarakat pada umumnya, pada saat itu pula
kita dianggap gila meski apa yang kita lakukan adalah hal benar. Kita dianggap
gila ketika kita berbelok dari corak kehidupan masyarakat pada umumnya.
Nikolai
Stepanovich adalah seorang dosen kedokteran di salah satu universitas di
Petersbugh. Adagium "Semakin tua seseorang, semakin banyak hal-hal yang
ingin dikomentarinya" menjadi benar adanya. Usia senja rupanya mampu
membuat sang profesor menjadi lebih cerewet. Ia mulai mengomentari keputusan
putri mendiang sahabatnya yang sangat ingin menjadi seorang aktris,
mempertanyakan keputusan istrinya yang hendak menikahkan putrinya dengan
seorang laki-laki yang latar pendidikan dan nasab keluarganya tidak jelas,
serta mengeluhkan kebiasaan istrinya yang selalu memaksanya untuk meminum
berbagai macam pil dengan dalih untuk kesehatannya. Ia yang biasanya memaklumi
pilihan orang lain, percaya dengan semua keputusan istrinya tiba-tiba berubah
drastis hanya karena satu faktor, usia. Komentar tersebut bukan hanya dalam
ruang lingkup keluarga saja melainkan juga dalam bidang profesi yang
digelutinya.
Pada
pertemuan terakhir, ia berbicara panjang lebar di hadapan murid-muridnya. Ia
mengeluhkan tentang jenis-jenis mahasiswanya yang sekarang, yang sangat jauh
berbeda dengan tipikal mahasiswa pada zamannya. Meski demikian, ia tetap bangga
menjadi dosen mereka. Ia pun menyayangkan bahwa ia harus pensiun dari profesi
yang sudah digelutinya beberapa puluh tahun terakhir ini. Hatinya merasa
terkoyak-koyak karena ke depannya ia tidak akan lagi berdiri di podium di dalam
kelas, tidak lagi menghadapi mahasiswa yang berkonsultasi perihal perkuliahan,
dan lain sebagainya. Ia begitu pilu dengan kenyataan pahit yang akan
dihadapinya.
Kelihaian
Chekov dalam mengolah sebuah cerita pendek tampak dalam cerita berjudul: Wanita
dengan Anjing. Ketika Dmitrii Dmitrich Gurov sudah menghabiskan dua minggu di
Yalta ia melihat wajah baru di kota itu. Wanita tersebut biasa berjalan
mengelilingi kota dengan seekor anjing. Rasa penasaran akan wanita itu membuat Dmitrii
Dmitrich Gurov berani untuk mendekatinya. Secara sepintas mungkin kita akan
menyangka bahwa kisah cinta antara laki-laki yang bersuami dan perempuan
beristri tersebut akan berakhir beserta dengan selesainya liburan mereka.
Namun, tidak demikian dengan cerita ini. Bahkan cerita ini berlanjut hingga
beberapa tahun setelahnya. Ketika si lelaki mulai jenuh dengan istrinya dan
sang perempuan merasa tidak bahagia dengan pernikahannya. Dengan keahliannya,
Chekov membuat cerita bertema sederhana menjadi sebuah kisah yang luar biasa.
Pengalaman Chekov sebagai seorang jurnalis
serta penulis majalah komedi membuat tulisan-tulisannya memiliki gaya dan ciri
khas tersendiri. Cerita-cerita di dalam buku ini membuktikannya. Banyak orang
yang mengagumi dan memuja karya-karyanya, tapi tidak ada yang benar-benar bisa
menirunya. Kebesaran Chekov sebagai seorang ahli penulis cerita pendek memang
pantas untuk dipuja.