Maxwell Evarts Perkins pernah mengatakan dalam buku biografinya
bahwa tulisan-tulisan Ernest Hemingway mencakup tema ‘manusia yang berlaku mulia saat berhadapan dengan pilihan sulit’. Hal itu terlihat jelas dalam
karya-karyanya seperti The Old Man and The Sea, A Farewell to Arms, serta For
Whom The Bell Tolls. Dalam The Old Man and The Sea, Santiago, tokoh utama dalam
cerita, meski sudah renta tetap berlayar untuk mencari ikan karena tidak tahan
dengan omongan para tetangga yang menganggap bahwa hidupnya dipenuhi kesialan.
Ia diambang dua pilihan yang sangat sulit; menetap atau berlayar. Begitu pula
dalam novel A Farewell to Arms, Letnan Kolonel Henry dihadapkan pada dua
pilihan yang membuatnya dilema; tetap bertempur sebagai seorang prajurit atau
kabur bersama wanita yang dicintainya. Gambaran seseorang yang terjebak dalam
dua pilihan yang sulit ini juga tampak dalam novel Kepada Siapa Genta
Berdentangan.
Novel tersebut merupakan hasil laporan Hemingway atas perang
saudara yang terjadi pada musim semi tahun 1937 di Spanyol. Novel yang
dipersembahkan untuk Martha Gellhorn, wanita yang dikemudian hari menjadi istri
Hemingway, menghadirkan sebuah gambaran apik mengenai Spanyol, kengerian perang,
dan kisah cinta yang membara.
Robert Jordan mengemban amanat yang diberikan oleh atasannya,
Jenderal Golz, Komandan Divisi 35 Pasukan Merah, untuk menghancurkan sebuah
jembatan yang dipakai oleh pasukan fasis untuk menggerakkan bala bantuan ketika
sewaktu-waktu mereka diserang musuh. Perintah yang sederhana, namun tidak sesederhana
kelihatannya. Ia harus merencanakan secara matang agar misi yang ia emban
terlaksana dengan sempurna. Tanpa cacat. Ia menyadari bahwa keberlangsungan
hidup atas nama keadilan dan kesetaraan di negeri Matador itu berada di
tangannya.
Berbekal dua buah ransel penuh bom dengan dipandu oleh seorang
kakek tua bernama Anselmo, ia pun akhirnya berhasil menemukan jembatan yang
harus ia remukkan. Melalui kakek tua itu, Robert Jordan bertemu dengan banyak
pejuang yang tersingkirkan. Mereka adalah para pejuang republik yang melawan
kekejaman kaum fasis. Dari setiap cerita yang digaungkan, betapa mengerikannya
potret perang kala itu.
Spanyol menjadi ladang pertempuran antar dua ideologi besar kala
itu; komunis dan fasis. Perang tersebut merupakan pemanasan sebelum terjadinya
Perang Dunia II. Spanyol menjadi tempat pembunuhan massal oleh dua kubu raksasa
itu sehingga menimbulkan trauma yang cukup signifikan di benak korban
masing-masing kubu. Begitulah yang dialami setiap tokoh yang ada di dalam buku
ini; Pablo, Pilar, Maria, Anselmo, Andres, Primitivo, dan para pejuang republik
lainnya. Setiap kali mereka mendengar kata ‘Fasis’ apa yang terbesit dibenak
mereka hanyalah luka dan luka.
Mereka yang kini menjadi korban adalah para pelaku kejahatan di
masa sebelumnya. Ketika berkuasa, mereka juga melakukan pembantaian terhadap
para fasis yang hidup di sekitar mereka. Maka ketika mereka menjadi buronan,
mereka dihantui akan dosa yang telah mereka perbuat. Bayangan mengenai
pembantaian manusia menggunakan alat-alat pertanian, perabotan rumah, granat,
dan senjata apapun yang bisa dipakai untuk membunuh kaum fasis selalu
menghantui malam-malam nan sunyi di dalam gua persembunyian mereka.
Hingga di suatu titik, setiap orang merindukan kedamaian dan
usainya perang. Mereka merindukan hari-hari di mana mereka bisa berkumpul
dengan orang-orang yang dicintai tanpa harus dirundung rasa takut. Mereka
berjuang, bersekutu, dan melawan kaum yang menindas mereka untuk sebuah masa
depan yang penuh dengan kebebasan, martabat, hak-hak manusia yang terpenuhi,
dan tanpa ada sedikit pun kelaparan.
Rasa cinta itu membulatkan tekad mereka. Meski hanya berbekal senjata dan
peralatan seadanya, mereka tetap kukuh untuk memperjuangkan ideologi yang telah
mereka anut. Walaupun yang mereka hadapi adalah sekumpulan pasukan tentara
dengan senjata-senjata mewah seperti tank dan pesawat terbang, mereka tidak
gentar.
Ambisi untuk memenangi perang mengusir setiap ketakutan dan kelelahan
yang mendera mereka. Bahkan beberapa gerilyawan rela mati dalam tembakan musuh
demi untuk melindungi wilayah yang sudah menjadi tanggung jawab mereka.
Darah-darah dan mayat-mayat yang berserakan di pinggiran sungai, di dalam
jurang, di tepian bukit-bukit, adalah saksi betapa mengerikannya pertempuran
antar dua kubu ideologi raksasa tersebut.
Namun, ada satu hal yang menghalangi misi
sang prajurit yaitu cinta. Cinta seringkali datang di tempat dan pada waktu yang tidak tepat.
Barangkali itulah frasa yang pas untuk menggambarkan betapa menyedihkannya
percintaan seorang Robert Jordan. Manakala ia harus memofuskan diri untuk
menuntaskan tugasnya, ia justru bertemu dengan sosok Maria, seorang gadis
berambut pirang asli Spanyol yang telah kehilangan segalanya dalam peperangan;
keluarga, keperawanan, dan kehormatan.
Perempuan itu menumbuhkan rasa cinta yang begitu besar dalam benak
Robert Jordan. Perempuan itu adalah pelucut sejati kelelahannya. Perempuan itu
adalah semesta dalam realitas yang baru dijajakinya. Beratnya hari-hari yang
harus dilalui membuat prajurit itu selalu membuatnya membicarakan akan
hari-hari indah di masa depan setelah peperangan bersama perempuan yang
dikasihinya. Cinta yang terlampau dalam itu benar-benar membuatnya bingung
apakah harus menyelesaikan misinya atau kabur bersama perempuan yang sangat
dicintainya.
Pada dasarnya,
kisah-kisah yang ditulis Hemingway merupakan cerminan dari kehidupan pribadinya.
Santiago, Letnan Kolonel Henry, maupun Robert Jordan semuanya merujuk pada satu
orang yang sama, Ernest Hemingway. Michael Pearson pernah berkata dalam
bukunya, Tempat-tempat Imajiner, bahwa sukar untuk membedakan realitas dan
fiksi dalam kisah hidup Hemingway. Ia adalah seorang tentara, pelaut, tukang
tinju, pemabuk, pemain cinta, dan pemburu yang tak kenal takut, yang kesemuanya
ia abadikan dalam karya-karya miliknya. Itulah mengapa setiap karya-karyanya
selalu membekas dalam diri pembacanya.
0 komentar:
Post a Comment